Kalau seseorang hanya melihat statistik pertandingan ini tanpa melihat skornya, kemungkinan besar dia akan mengira Turki menang mudah.
Penguasaan bola hampir 80 persen.
Lebih dari 30 tembakan.
Belasan sepak pojok.
Dan sepanjang babak kedua bermain melawan sepuluh orang.
Masalahnya, sepak bola tidak menentukan pemenang lewat statistik.
Sepak bola menentukan pemenang lewat gol.
Dan Paraguay punya satu.
Turki tidak punya satupun.
Mimpi buruk Turki bahkan dimulai sebelum pertandingan benar-benar berjalan.
Baru sekitar satu menit laga berlangsung, Julio Enciso membawa bola ke area berbahaya dan mengirim umpan yang disambut Matías Galarza.
Gol.
Belum dua menit.
Paraguay unggul 1-0.

Seluruh rencana permainan Turki langsung berantakan.
Tim asuhan Vincenzo Montella dipaksa mengejar pertandingan hampir sejak kick-off.
Untungnya bagi mereka, waktu masih sangat banyak.
Atau setidaknya itulah yang dipikirkan semua orang saat itu.
Setelah kebobolan, Turki mulai menguasai permainan. Hakan Çalhanoğlu mengatur tempo, Arda Güler mencoba membuka ruang, sementara Kenan Yıldız terus mencari celah di pertahanan Paraguay. Bola hampir selalu berada di kaki pemain Turki.
Namun ada satu masalah besar.
Mereka tidak tahu cara mengubah dominasi menjadi gol.
Berkali-kali serangan dibangun.
Berkali-kali umpan silang dikirim.
Berkali-kali tembakan dilepaskan.
Dan berkali-kali pula Paraguay berhasil bertahan.
Lalu datang momen paling kontroversial malam itu.
Menjelang turun minum, Miguel Almirón terlibat perselisihan dengan Mert Müldür.
VAR kemudian meninjau insiden tersebut.
Hasilnya mengejutkan.
Kartu merah langsung untuk Almirón karena menutupi mulutnya saat berbicara dalam konfrontasi, sebuah pelanggaran yang kini masuk aturan baru FIFA.
Paraguay harus bermain dengan sepuluh orang.
“Ketika lawan kehilangan satu pemain, biasanya pertandingan menjadi lebih mudah. Turki justru membuatnya terlihat lebih sulit.”
Babak kedua berubah menjadi satu arah.
Turki menyerang.
Paraguay bertahan.
Turki menyerang lagi.
Paraguay bertahan lagi.
Begitu terus selama hampir 50 menit.
Kadang terasa seperti latihan menyerang melawan bertahan.
Masalahnya, Paraguay memainkan peran bertahan dengan sempurna.
Setiap bola silang dibuang.
Setiap ruang ditutup.
Setiap peluang dipaksa menjadi tembakan dari posisi sulit.
Para pemain Paraguay bahkan beberapa kali harus menjatuhkan diri untuk memblok tembakan yang mengarah ke gawang.
Turki sebenarnya punya beberapa kesempatan emas.
Salah satunya membentur mistar.
Ada pula sundulan di menit-menit akhir yang hanya melenceng tipis dari sasaran.
Ketika peluang terakhir itu gagal masuk, beberapa pemain Turki langsung terduduk di lapangan. Ada yang menutupi wajahnya. Ada yang menangis. Karena mereka tahu semuanya sudah selesai.
Peluit panjang berbunyi.
Paraguay menang 1-0.
Turki resmi tersingkir dari Piala Dunia setelah menelan dua kekalahan beruntun tanpa mencetak satu gol pun. Padahal dalam dua pertandingan mereka menghasilkan lebih dari 60 tembakan. Sebuah statistik yang terdengar mustahil.
Bagi Paraguay, ini adalah kemenangan yang menjaga harapan tetap hidup.
Bagi Turki, ini adalah salah satu cara paling menyakitkan untuk pulang.
Karena mereka tidak kalah akibat kurang menyerang.
Mereka kalah karena tidak tahu cara menyelesaikan serangan.
Dan terkadang, itu jauh lebih menyakitkan.
Rangkaian Gol
⚽ 2’ — Matías Galarza (Paraguay) 0-1
🟥 45’ — Miguel Almirón (Paraguay)
Hasil Akhir
Turki 0-1 Paraguay 🇹🇷🇵🇾
Man of the Match: Matías Galarza
(Pencetak gol tercepat pertandingan sekaligus penentu kemenangan Paraguay.)

“Turki menguasai bola. Paraguay menguasai skor. Dan pada akhirnya, hanya satu yang penting.”