Ketika undian Piala Dunia 2026 menempatkan Tunisia satu grup dengan Belanda, Jepang, dan Swedia, banyak yang menganggap mereka memang bukan favorit.

Tapi tidak banyak yang menyangka perjalanan mereka akan berakhir secepat ini.

Dua pertandingan.

Dua kekalahan.

Sembilan gol kebobolan.

Dan kini Tunisia resmi menjadi salah satu negara pertama yang tersingkir dari Piala Dunia 2026.

Yang membuat eliminasi ini terasa lebih menyakitkan adalah cara mereka kalah.

Bukan karena melawan tim raksasa seperti Brasil atau Argentina.

Bukan juga karena kalah tipis akibat satu kesalahan.

Tunisia justru terlihat kesulitan bersaing hampir sepanjang turnamen.

Masalah pertama muncul saat laga pembuka melawan Swedia.

Pertandingan itu sebenarnya menjadi kesempatan terbaik Tunisia untuk mencuri poin. Swedia bukan tim unggulan utama grup dan banyak yang memperkirakan duel tersebut akan berjalan ketat.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Swedia menghajar Tunisia 5-1.

Pertahanan Tunisia terlihat rapuh setiap kali menghadapi transisi cepat. Lini tengah gagal melindungi area depan bek, sementara lini belakang terlalu mudah ditembus. Kekalahan itu langsung menempatkan mereka dalam posisi sulit.

Masalahnya, lawan berikutnya adalah Jepang.

Tim yang baru saja membuat Belanda frustrasi lewat hasil imbang 2-2.

Dan Jepang tidak menunjukkan belas kasihan.

Baru empat menit pertandingan berjalan, Daichi Kamada membuka skor.

Tunisia mulai kehilangan bentuk permainan.

Ayase Ueda menambah keunggulan.

Junya Ito ikut mencetak gol.

Ueda kembali mencetak gol kedua.

Skor akhir 4-0.

Selesai.

"Ada tim yang kalah karena kualitas lawan lebih baik. Ada tim yang kalah karena tidak pernah benar-benar menemukan permainan mereka sendiri."

Yang paling mengkhawatirkan sebenarnya bukan jumlah gol yang mereka kebobolan.

Melainkan bagaimana Tunisia terlihat tidak memiliki identitas permainan yang jelas.

Saat tertinggal mereka kesulitan menyerang.

Saat bertahan mereka mudah ditembus.

Saat harus mengejar pertandingan mereka kehabisan ide.

Pergantian pelatih menjelang turnamen juga tidak mampu memberikan dampak instan yang diharapkan. Tim terlihat belum menemukan keseimbangan antara organisasi pertahanan dan kreativitas serangan.

Hasilnya terlihat jelas di klasemen.

Main: 2

Menang: 0

Seri: 0

Kalah: 2

Gol memasukkan: 1

Gol kebobolan: 9

Selisih gol: -8

Poin: 0

Dengan kondisi tersebut, Tunisia tidak lagi memiliki jalur matematis untuk lolos ke babak gugur, baik sebagai dua tim teratas grup maupun sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik.

Kini mereka hanya menyisakan satu pertandingan melawan Belanda.

Pertandingan itu tidak lagi menentukan nasib mereka.

Namun tetap penting untuk menjaga harga diri.

Karena tidak ada tim yang ingin pulang dari Piala Dunia tanpa satu pun kemenangan.

Bagi Tunisia, Piala Dunia 2026 akan dikenang bukan karena kejutan besar atau kemenangan heroik.

Melainkan sebagai turnamen yang berakhir sebelum benar-benar dimulai.

Haiti sudah pulang.

Turki sudah pulang.

Dan sekarang Tunisia menyusul.

Dengan cara yang mungkin paling menyakitkan: kalah sebelum sempat memberi perlawanan terbaik.

"Piala Dunia selalu memberi mimpi bagi semua peserta. Tunisia hanya tidak diberi waktu yang cukup lama untuk menikmatinya."