Max Verstappen akhirnya ngerasain juga satu hal yang selama ini cuma jadi fantasi para fans motorsport: nyetir full di Nürburgring 24 Hours. Dan lucunya, dia keliatan terlalu nyaman buat ukuran orang yang baru debut di Green Hell.

Dari awal weekend suasananya udah gak normal. Orange Army mulai memenuhi Nordschleife, fans F1 dadakan belajar apa itu Code 60, dan Nürburgring yang biasanya “cuma” jadi surganya endurance racing mendadak berubah kayak race weekend Formula 1. Bahkan banyak media nyebut efek Verstappen bikin antusiasme event tahun ini meledak. 

Tapi Max sendiri keliatan santai.

Karena buat dia, Nürburgring bukan sekadar side quest. Dari dulu dia emang cinta sama endurance racing. Dia pernah bilang kalau dia gak mau selamanya cuma dikenal sebagai pembalap Formula 1 doang.

“I don’t need to be just a Formula 1 driver.”

Dan makin ke sini, makin keliatan itu bukan sekadar omongan.

Begitu qualifying dimulai, Verstappen Racing langsung nunjukin kalau mereka datang bukan buat numpang nama besar. Lucas Auer jadi pembuka jalan di Top Qualifying 1 dan berhasil membawa Mercedes-AMG GT3 mereka lolos comfortably ke sesi berikutnya. Lalu giliran Max turun.

Dan langsung chaos.

Lap awalnya langsung kompetitif. Bahkan sempat jadi fastest lap sementara sebelum sesi terganggu karena crash dan Code 60. Nürburgring emang selalu punya cara buat bikin hidup semua orang ribet. 

Yang menarik, Max justru keliatan makin menikmati semuanya.

Padahal sebelumnya dia baru pertama kali ngerasain night run Nordschleife dalam kondisi hujan dan kabut. Dan kalau lu ngerti Nürburgring, itu basically tutorial trauma.

“Yesterday, there were a lot of changing conditions… probably the worst circumstances with rain and fog.”

Normalnya pembalap habis ngomong gitu bakal lanjut cerita soal seremnya visibility atau susahnya track condition.

Max malah nambah:

“But at least it gave me a good idea of what could be coming our way in the race.”

Orang normal panik.

Dia malah observasi.

Dan mungkin itu alasan kenapa Nürburgring terasa cocok banget buat dirinya. Karena trek ini gak peduli reputasi lu apa. Mau lu juara dunia Formula 1 empat kali sekalipun, Nordschleife tetap bisa bikin lu keliatan bodoh dalam satu tikungan.

Tapi justru di situlah Max keliatan hidup.

Di Top Qualifying 2, semuanya mulai serius. Setelah sesi sempat kacau karena insiden Marco Engel, para driver cuma punya satu kesempatan terakhir buat push lap. Dan di situlah Max mengeluarkan 8:11.614 — cukup buat membawa Verstappen Racing masuk Top Qualifying 3. 

“I felt good in the car,” 

kata Max setelah sesi selesai.

“Of course, our goal was to get into the Top Qualifying 3. That isn’t an easy task with this level of competition.”

Dan emang gak mudah.

GT3 field Nürburgring tahun ini isinya monster semua. Porsche, BMW, Audi, Lamborghini, Mercedes — semuanya turun dengan line-up yang absurd kuat. Tapi Verstappen Racing langsung masuk radar favorit.

Yang bikin lucu, Max sendiri malah keliatan kayak orang lagi liburan.

“The last lap was just fast enough,” 

katanya sambil santai.

“Luckily it was dry and the car felt good.”

Kedengarannya simpel.

Padahal di Nürburgring, kalimat “luckily it was dry” tuh bisa jadi perbedaan antara:

  • masuk Top Qualifying 3 atau
  • masuk video compilation crash YouTube jam 2 pagi.

Sekarang qualifying udah selesai. Verstappen Racing udah masuk Top Qualifying 3. Dan tiba-tiba semua orang mulai mikir hal yang sama:

atau…jangan-jangan Max Verstappen bisa menang di debut Nürburgring 24 Hours.