Empat hari lalu banyak orang mulai bertanya-tanya.

Apa yang terjadi dengan Spanyol?

Mereka datang ke Piala Dunia 2026 sebagai juara Eropa dan salah satu favorit juara dunia. Namun laga pembuka justru berakhir dengan hasil imbang 0-0 melawan Tanjung Verde. Penguasaan bola ada. Peluang ada. Golnya tidak ada. 

Tekanan mulai muncul.

Kritik mulai berdatangan.

Dan Arab Saudi kebetulan menjadi tim yang harus menghadapi Spanyol yang sedang marah.

Hasilnya?

Tidak bagus bagi Arab Saudi.

Sama sekali tidak bagus.

Sejak menit pertama, La Roja langsung bermain jauh lebih agresif dibanding laga sebelumnya. Luis de la Fuente melakukan beberapa perubahan dan salah satu keputusan terpentingnya adalah memainkan Lamine Yamal sejak awal. Keputusan itu langsung terbayar. 

Menit ke-10.

Mikel Oyarzabal mengirim bola ke area berbahaya.

Lamine Yamal muncul di tiang jauh.

Gol.

1-0.

Gol pertama Yamal di Piala Dunia. Dan mungkin yang paling penting, gol yang mengakhiri puasa gol Spanyol di turnamen ini. 

Setelah gol itu, Arab Saudi mulai kehilangan pijakan.

Spanyol menyerang dari semua arah.

Pedri mengendalikan tempo.

Rodri mengatur ritme.

Yamal dan Oyarzabal membuat pertahanan Saudi berputar-putar mengejar bayangan. 

Lalu datang momen yang benar-benar mematikan.

Menit ke-21.

Oyarzabal mencetak gol.

2-0.

Dua menit kemudian.

Oyarzabal lagi.

3-0.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, pertandingan praktis selesai. Arab Saudi belum sempat bangkit dari gol kedua ketika gol ketiga sudah masuk ke gawang mereka. 

“Kadang sebuah pertandingan berakhir saat peluit panjang berbunyi. Kadang pertandingan berakhir saat skor menjadi 3-0 sebelum setengah jam pertama.”

Babak pertama berakhir dengan dominasi total Spanyol.

Arab Saudi yang tampil cukup disiplin saat menahan Uruguay 1-1 pada laga pertama tidak mampu mengulangi performa tersebut. Mereka terlalu dalam bertahan, terlalu sering kehilangan bola, dan hampir tidak memberikan ancaman berarti ke gawang Unai Simón. 

Masuk babak kedua, Spanyol sedikit menurunkan tempo.

Tapi bukan berarti penderitaan Arab Saudi selesai.

Baru beberapa menit babak kedua berjalan, Marc Cucurella melepaskan tembakan yang kemudian berbelok setelah mengenai Hassan Al-Tambakti.

Gol bunuh diri.

4-0. 

Skor itu menjadi pukulan terakhir.

Arab Saudi sebenarnya mencoba bermain lebih terbuka setelah tertinggal jauh, tetapi kualitas Spanyol terlalu tinggi. Bahkan Ferran Torres sempat mencetak gol kelima sebelum dianulir karena offside. 

Yang menarik, Luis de la Fuente bahkan bisa menarik keluar Yamal dan Oyarzabal lebih awal untuk menjaga kondisi mereka. Sebuah kemewahan yang hanya bisa dilakukan ketika pertandingan sudah benar-benar berada dalam genggaman. 

Bagi Spanyol, kemenangan ini terasa lebih penting daripada sekadar tiga poin.

Mereka membuktikan bahwa hasil imbang melawan Tanjung Verde hanyalah kecelakaan kecil.

Mereka membuktikan bahwa status favorit juara masih layak disandang.

Dan mereka membuktikan bahwa ketika mesin serangan La Roja mulai hidup, tidak banyak tim yang bisa menghentikannya. 

Sementara bagi Arab Saudi, kekalahan ini menjadi pengingat betapa tipisnya margin kesalahan di Piala Dunia. Mereka masih memiliki peluang lolos, tetapi pertandingan terakhir melawan Tanjung Verde kini berubah menjadi laga hidup dan mati. 

Rangkaian Gol

⚽ 10’ — Lamine Yamal (Spanyol) 1-0

⚽ 21’ — Mikel Oyarzabal (Spanyol) 2-0

⚽ 23’ — Mikel Oyarzabal (Spanyol) 3-0

⚽ 49’ — Hassan Al-Tambakti (Gol Bunuh Diri) 4-0 

Hasil Akhir

Spanyol 4-0 Arab Saudi 🇪🇸

Man of the Match: Mikel Oyarzabal

Cetak brace ke gawang Arab Saudi.

“Empat hari lalu Spanyol dipertanyakan. Empat hari kemudian mereka menjawab dengan empat gol.”