Ini bukan sekadar pertandingan hidup atau mati.
Ini adalah pertandingan yang mengharuskan Senegal menang… dan menang dengan skor sebesar mungkin.
Setelah kalah dari Prancis dan Norwegia pada dua laga pertama, Singa Teranga hanya memiliki satu jalan untuk menjaga mimpi mereka tetap hidup: menghajar Irak sambil berharap hasil di grup lain berpihak kepada mereka. Irak pun datang dengan misi yang sama, tetapi nasib pertandingan berubah terlalu cepat.
Baru empat menit pertandingan berjalan, Senegal langsung memimpin.
Berawal dari sepak pojok Lamine Camara, Abdoulaye Seck memenangkan duel udara. Bola kemudian mengenai Habib Diarra sebelum melambung melewati Ahmed Basil.
Gol.
1-0 Senegal.
Awal yang sempurna bagi wakil Afrika.
Namun petaka sesungguhnya bagi Irak datang sembilan menit kemudian.
Sadio Mané lolos sendirian menuju gawang sebelum dijatuhkan Rebin Sulaka tepat di luar kotak penalti.
Wasit Anthony Taylor tanpa ragu mengeluarkan kartu merah langsung.
Irak harus bermain dengan sepuluh pemain sejak menit ke-13.
Semua orang mengira hujan gol akan langsung datang.
Anehnya, tidak.
Meski unggul jumlah pemain dan mendominasi penguasaan bola, Senegal justru kesulitan membongkar pertahanan Irak. Ahmed Basil beberapa kali melakukan penyelamatan penting, sementara lini belakang Irak tetap bertahan dengan disiplin meski bermain pincang.
Babak pertama ditutup hanya dengan skor 1-0.
Dan bagi Senegal, skor itu jelas belum cukup.
“Unggul satu gol saat lawan bermain dengan sepuluh orang terasa seperti setengah pekerjaan yang belum selesai.”
Apa yang tidak terjadi di babak pertama akhirnya meledak setelah turun minum.
Menit ke-56, Ismaïla Sarr menggandakan keunggulan setelah memanfaatkan bola liar di dalam kotak penalti.
2-0.
Gol tersebut juga membuat Sarr resmi menjadi pencetak gol terbanyak Senegal sepanjang sejarah Piala Dunia dengan empat gol.
Belum sempat Irak mengatur napas, Senegal kembali menghantam.
Pape Gueye yang baru masuk dari bangku cadangan melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti pada menit ke-59.
Gol.
3-0.
Toronto Stadium mulai berubah menjadi pesta bagi para pendukung Senegal.
Gueye ternyata belum selesai.
Menit ke-71, gelandang Villarreal itu kembali mencetak gol lewat sepakan jarak jauh yang lagi-lagi gagal dihentikan Ahmed Basil.
4-0.
Dua tembakan.
Dua gol.
Efektivitas luar biasa dari seorang pemain pengganti.
Ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir, Iliman Ndiaye ikut mencatatkan namanya di papan skor.
Serangan cepat Senegal diakhiri penyelesaian tenang Ndiaye pada menit ke-83.
5-0.
Gol penutup yang menyempurnakan malam luar biasa Singa Teranga.
Peluit panjang akhirnya berbunyi.
Senegal menang telak 5-0.
Bukan hanya menjaga peluang lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik, kemenangan ini juga mencatat sejarah sebagai kemenangan terbesar tim Afrika dalam sejarah Piala Dunia.
Sementara itu, perjalanan Irak resmi berakhir.
Tiga pertandingan.
Tiga kekalahan.
Tanpa satu poin pun.
Kembalinya mereka ke Piala Dunia setelah penantian 40 tahun harus ditutup dengan kenyataan pahit, meski kartu merah di awal pertandingan jelas mengubah arah laga secara drastis.
Bagi Senegal, pekerjaan mereka juga belum selesai.
Lima gol sudah mereka lakukan.
Kini mereka tinggal menunggu.
Menunggu apakah kemenangan bersejarah itu cukup untuk membawa mereka ke babak 32 besar.
Rangkaian Gol
⚽ 4’ — Habib Diarra (Senegal) 1-0
🟥 13’ — Rebin Sulaka (Irak)
⚽ 56’ — Ismaïla Sarr (Senegal) 2-0
⚽ 59’ — Pape Gueye (Senegal) 3-0
⚽ 71’ — Pape Gueye (Senegal) 4-0
⚽ 83’ — Iliman Ndiaye (Senegal) 5-0
Hasil Akhir
Senegal 5-0 Irak 🇸🇳🇮🇶
Man of the Match: Pape Gueye 🏆
Masuk sebagai pemain pengganti, Pape Gueye langsung mengubah pertandingan dengan dua gol spektakuler dari luar kotak penalti. Penampilannya menjadi pembeda dan membawa Senegal mencatat kemenangan terbesar tim Afrika dalam sejarah Piala Dunia.
“Kadang yang dibutuhkan bukan sekadar menang. Kadang yang dibutuhkan adalah menang sebesar mungkin. Dan Senegal melakukannya dengan cara yang luar biasa.”