Hai, nama saya Iwa Frihantara. Tapi orang-orang biasanya manggil saya beda-beda. Ada yang manggil Iwa, Frihan, Tara, bahkan Ara. Nah yang terakhir itu saya juga bingung awal mulanya dari mana. Soalnya Ara biasanya nama cewek, sedangkan saya kalau ngaca ya masih lumayan laki lah. Tapi ya sudahlah, manusia tidak bisa memilih dipanggil apa, sama kayak saya tidak bisa memilih lahir dengan mode normal.
Saya lahir di Kuningan, Jawa Barat, lewat jalur sesar. Jadi dari awal hidup aja saya udah masuk lewat pintu VIP. Kata orang dulu badan saya kecil banget, segede batu bata. Belum lagi habis lahir langsung disenterin lampu kuning kayak anak ayam baru netas. Mungkin dari situ awal mula saya suka suasana warm tone.
“Teori Bidan 2005 mengatakan bahwa bayi kecil yang disenterin lampu kuning berpotensi tumbuh jadi manusia bingung.”
Sekarang saya kuliah di Universitas Swadaya Gunung Jati, atau biasa disingkat UGJ. Sebenernya dulu niat kuliah bukan di sini sih, tapi ya orang tua nyuruhnya yang dekat-dekat aja. Maklum, saya udah 6 tahun hidup di pondok. Dan ini pondok yang beneran pondok ya, bukan yang isinya main senioritas terus tiap malam ada drama kekuasaan.
Karena kalau kata Teori Saiful tahun 2024:
“Beda pondok beda peraturan, salah pondok main raja-rajaan.”
Dan jujur aja, gara-gara beberapa kasus begitu, image pondok pesantren jadi jelek. Padahal ya gak semua pondok kayak gitu. Sama kayak kalau ada satu tukang bakso nyampur formalin bukan berarti seluruh bakso di Indonesia ikut bersalah.
Belum lagi sekarang banyak kasus aneh-aneh yang bikin orang makin salah paham sama pondok. Bahkan saya sempat minder kalau ditanya lulusan mana. Takut orang langsung mikir saya tiap hari disuruh pidato habis subuh sambil jongkok di depan senior.
Padahal ya enggak juga.
Tapi yasudahlah ya, di sini saya bukan mau bahas dunia perpondokan yang kadang lebih banyak plot twist daripada sinetron azab. Saya cuma mau cerita tentang hidup saya yang sebenarnya biasa aja. Tidak terlalu spesial, tidak juga terlalu tragis. Masih lebih tragis orang yang udah semangat PDKT tapi ternyata cuma dijadiin tempat curhat.
Dan soal tulisan, saya juga sadar tulisan saya kadang amburadul. Jadi kalau nanti kalian lihat ada tulisan di blog saya yang terlalu rapi, terlalu puitis, terlalu intelek, jangan langsung percaya itu hasil otak saya semua. Kadang itu bantuan ChatGPT juga. Kita hidup di era modern, masa semua harus dikerjain sendiri.
“Kalau teknologi bisa membantu hidup, kenapa harus sok menderita?”
Di kampus saya punya beberapa teman dekat. Tapi gak jadian ya, karena kebanyakan cowok. Yakali saya gey jir. Walaupun kadang kalau nongkrong udah ketawa-ketawa bareng terus pulang malam, vibes-nya memang mirip tongkrongan yang gak punya arah hidup jelas.
Teman saya sebenarnya lumayan banyak dan datang dari macam-macam daerah. Soalnya dulu di pondok juga banyak anak luar pulau. Jadi sedikit banyak saya paham karakter orang-orang berdasarkan daerahnya. Walaupun ini bukan penelitian ilmiah ya, jadi jangan dipakai buat skripsi.
Menurut pengamatan saya, orang pesisir rata-rata wataknya lebih keras. Cara ngomongnya juga kadang kayak lagi marah padahal sebenarnya biasa aja. Sedangkan orang pegunungan biasanya lebih lembut.
Jadi bisa disimpulkan saya orangnya lembut.
Karena Kuningan dekat Gunung Ciremai.
Dan kalau dari Cirebon ke Kuningan ya harus nanjak dulu.
Logika saya sederhana tapi memaksa.
“Orang pegunungan itu lembut. Minimal kalau marah volumenya gak kayak toa masjid rusak.”
Pas awal masuk kuliah, saya benar-benar sendirian. Tidak ada yang kenal, tidak kenal siapa-siapa juga. Teman gugus beda kelas, teman SMP beda jurusan. Bahkan sebenarnya sebelum masuk ada kesempatan tukar kelas. Tinggal cari orang yang mau tukeran aja.
Tapi karena saya orangnya mageran, akhirnya saya memilih jalan hidup bernama “yasudahlah”.
Saya cuma bisa baca pengumuman kelas sambil bilang dalam hati:
“Lahaula wala quwwata illa billah.”
Dan ternyata keputusan males itu malah jadi awal cerita saya di kampus.
Dengan modal bisa cepat berbaur dan candaan-candaan gak jelas, akhirnya saya mulai kenal orang-orang baru. Awalnya cuma ngobrol biasa, lama-lama jadi nongkrong, lama-lama jadi akrab, lalu sampailah di titik di mana ketemu teman-teman yang benar-benar sefrekuensi.
Yang kalau ngobrol nyambung.
Yang kalau ketawa sama-sama goblok.
Yang kalau lagi susah malah saling roasting.
Dan menurut saya itu salah satu bentuk pertemanan terbaik.
Karena kadang kita gak butuh teman yang sok bijak terus. Kadang kita cuma butuh orang yang bisa diajak ketawa di tengah hidup yang lagi gak jelas arahnya.
“Tidak semua pertemuan harus luar biasa. Kadang yang sederhana justru paling susah dilupakan.”
Dan ya begitulah cerita saya sejauh ini. Masih biasa aja. Masih banyak bingungnya daripada suksesnya. Seperti teori Aldi Taher tahun 2023 Menyebutkan:
“Semua manusia di muka bumi ini bingung, nanti udah gak bingung kalo di surga”
Tapi setidaknya hidup saya gak sepenuhnya membosankan.
Walaupun kadang absurd juga sih.