Jujur ya, final Liga Champions tadi malam terasa kejam buat Arsenal. Untuk beberapa saat, mereka benar-benar terlihat seperti akan membuat sejarah. Kai Havertz mencetak gol cepat di menit ke-6 dan saya yakin banyak fans Arsenal mulai membayangkan satu hal: akhirnya.

Akhirnya setelah penantian panjang. Akhirnya setelah generasi demi generasi. Akhirnya setelah luka final 2006.

Tapi sepak bola memang tidak selalu peduli pada cerita yang indah.

PSG perlahan bangkit. Mereka tidak panik, tetap memainkan ritme mereka, sampai akhirnya Ousmane Dembélé menyamakan skor lewat titik penalti. Sejak gol itu masuk, pertandingan terasa berubah. Arsenal masih melawan, masih bertahan, tapi PSG terlihat semakin nyaman memainkan final sesuai keinginan mereka.

Skor 1-1 bertahan sampai waktu normal berakhir. Extra time lewat tanpa gol. Dan seperti banyak final besar lainnya, semuanya harus ditentukan lewat adu penalti. Bagian paling kejam dari sepak bola.

Karena kadang musim yang berlangsung berbulan-bulan berakhir hanya karena satu tendangan yang terlalu ke kiri atau terlalu ke kanan.

PSG tampil lebih tenang. Mereka terlihat seperti tim yang sudah pernah berada di situasi itu sebelumnya. Ketika penalti terakhir Arsenal gagal, semuanya selesai. PSG kembali menjadi juara Eropa.

Dan jujur saja, ini bukan lagi PSG yang dulu sering dijadikan bahan candaan karena selalu gagal di Liga Champions. Sekarang mereka terlihat seperti tim yang benar-benar tahu cara menang. Luis Enrique berhasil membawa mereka mempertahankan trofi, sesuatu yang bahkan klub-klub besar Eropa pun tidak mudah melakukannya.

“Sepak bola tidak selalu memberi trofi kepada cerita terbaik. Kadang hanya kepada tim yang paling siap saat momen besar datang.”

Meski kalah, Arsenal sebenarnya tidak buruk. Mereka memberikan perlawanan, membuat PSG bekerja keras, dan menunjukkan bahwa mereka memang sudah kembali ke level tertinggi Eropa. Hanya saja, tadi malam bukan malam mereka.

Untuk Arsenal, ini heartbreak.

Untuk PSG, ini sejarah.

Dan untuk kita yang begadang nonton?

Ya seperti biasa. Tidur subuh demi dua jam lebih stres yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan hidup kita.