Empat hari lalu banyak yang mempertanyakan Portugal.

Hasil imbang 1-1 melawan DR Kongo dianggap mengecewakan. Permainan Portugal terlihat lambat, Cristiano Ronaldo tidak mencetak gol, dan kritik mulai berdatangan dari segala arah. Ada yang mempertanyakan taktik Roberto Martínez. Ada yang mempertanyakan apakah Ronaldo masih layak menjadi starter di usia 41 tahun. 

Portugal tidak menjawab dengan konferensi pers.

Mereka menjawab dengan lima gol.

Dan orang yang paling banyak dikritik justru menjadi bintang utamanya.

Baru enam menit pertandingan berjalan, João Cancelo mengirim umpan rendah ke kotak penalti. Ronaldo bergerak ke tiang dekat dan menyelesaikannya dengan tenang.

Gol.

1-0.

Bukan sekadar gol biasa.

Gol itu membuat Cristiano Ronaldo menjadi pemain pertama dalam sejarah yang mencetak gol di enam edisi Piala Dunia berbeda. Sebuah rekor yang bahkan belum pernah dicapai Lionel Messi, Miroslav Klose, atau legenda mana pun sebelumnya. 

Kalau Uzbekistan berharap gol cepat itu hanya kebetulan, mereka segera mendapat kabar buruk.

Menit ke-17.

Portugal mendapatkan tendangan bebas.

Semua mata tertuju kepada Ronaldo yang berdiri di depan bola.

Namun yang menendang justru Nuno Mendes.

Dan hasilnya luar biasa.

Bola meluncur deras ke pojok gawang tanpa mampu dijangkau kiper Uzbekistan.

2-0. 

Pertandingan praktis berubah menjadi latihan menyerang Portugal.

Bruno Fernandes mengontrol tempo.

João Félix bergerak bebas di antara lini.

Pedro Neto terus menyerang dari sisi sayap.

Dan Uzbekistan mulai kewalahan menghadapi gelombang serangan yang datang tanpa henti. 

Sebenarnya Uzbekistan sempat membuat stadion terdiam.

Azizjon Ganiev mencetak gol indah yang membuat pendukung Portugal terkejut.

Masalahnya, VAR menemukan pelanggaran dalam proses terjadinya gol tersebut.

Gol dianulir.

Harapan Uzbekistan ikut menghilang. 

Menjelang turun minum, Ronaldo kembali muncul.

Bruno Fernandes mengirim umpan terukur.

Ronaldo menyambarnya dengan penyelesaian khas yang sudah dilihat dunia selama lebih dari dua dekade.

3-0.

Brace untuk CR7.

Dan malam bersejarah itu semakin sempurna. 

“Saat banyak orang mulai menulis bab terakhir karier Ronaldo, dia malah menambah satu halaman baru.”

Babak kedua berjalan dengan ritme yang sedikit lebih santai.

Portugal tidak lagi terburu-buru.

Uzbekistan tidak lagi mampu mengejar.

Namun gol tetap datang.

Menit ke-60, sebuah situasi yang tidak menguntungkan bagi Uzbekistan terjadi. Kiper Abduvohid Nematov gagal mengantisipasi bola dengan baik dan justru memasukkannya ke gawang sendiri.

4-0. 

Skor besar tidak membuat Portugal berhenti bermain.

Rafael Leão yang masuk dari bangku cadangan ikut mencatatkan namanya di papan skor pada menit ke-87 setelah menerima umpan dari Ronaldo.

5-0.

Tuntas sudah malam yang sempurna bagi Portugal. 

Yang menarik, kemenangan ini terasa lebih penting daripada sekadar tiga poin.

Portugal datang ke laga ini dengan tekanan.

Mereka keluar dari laga ini sebagai pemuncak Grup K sementara dan selangkah lebih dekat ke babak gugur. Sementara Uzbekistan yang menjalani debut Piala Dunia kini berada di ambang eliminasi setelah menelan dua kekalahan beruntun. 

Di media sosial, banyak yang bercanda bahwa Ronaldo membaca semua komentar setelah laga melawan DR Kongo. Sulit menyalahkan mereka.

Karena respons yang diberikan Ronaldo memang terasa sangat personal.

Dikritik?

Cetak dua gol.

Diragukan?

Pecahkan rekor Piala Dunia.

Dibilang sudah habis?

Jadi pemain terbaik di lapangan. 

Rangkaian Gol

⚽ 6’ — Cristiano Ronaldo (Portugal) 1-0

⚽ 17’ — Nuno Mendes (Portugal) 2-0

⚽ 39’ — Cristiano Ronaldo (Portugal) 3-0

⚽ 60’ — Abduvohid Nematov (Gol Bunuh Diri) 4-0

⚽ 87’ — Rafael Leão (Portugal) 5-0 

Hasil Akhir

Portugal 5-0 Uzbekistan 🇵🇹🇺🇿

Man of the Match: Cristiano Ronaldo

Dua gol, satu assist, dan satu rekor yang mungkin akan bertahan sangat lama. Pada usia 41 tahun, Ronaldo menjadi pemain pertama yang mencetak gol di enam edisi Piala Dunia berbeda. 

“Mungkin suatu hari nanti Ronaldo akan berhenti mencetak sejarah. Hari ini bukan hari itu.”