Semua sorotan sebelum pertandingan mengarah ke satu orang.
Cristiano Ronaldo.
Di usia 41 tahun, ia kembali menjadi starter di Piala Dunia dan resmi menjadi salah satu pemain pertama yang tampil dalam enam edisi Piala Dunia. Sebuah rekor yang terdengar mustahil beberapa tahun lalu.
Masalahnya, sepak bola tidak terlalu peduli pada cerita indah sebelum kick-off.
Karena ketika pertandingan dimulai, DR Kongo datang bukan untuk menjadi figuran dalam pesta Ronaldo.
Mereka datang untuk mencari poin.
Dan mereka mendapatkannya.
Portugal sebenarnya memulai pertandingan dengan sempurna.
Baru enam menit laga berjalan, Pedro Neto berhasil menemukan ruang di sisi kiri. Umpan silangnya mengarah tepat ke João Neves yang datang dari lini kedua dan menyundul bola masuk ke gawang.
Gol.
1-0 untuk Portugal.

Awal yang membuat banyak orang berpikir pertandingan akan berjalan sesuai prediksi.
Portugal menguasai bola.
Portugal mengontrol tempo.
Portugal terlihat nyaman.
Tapi justru di situlah masalahnya.
Mereka terlalu nyaman.
Setelah unggul cepat, intensitas permainan mulai menurun. Operan masih mengalir, penguasaan bola tetap tinggi, tetapi ancaman ke gawang DR Kongo semakin jarang terlihat. Bahkan sepanjang pertandingan Portugal hanya mampu menghasilkan sangat sedikit tembakan tepat sasaran meski mendominasi penguasaan bola.
Sementara itu DR Kongo perlahan mulai menemukan ritme.
Mereka bertahan dengan disiplin.
Mereka menunggu.
Mereka tidak panik.
Dan tepat ketika babak pertama hampir berakhir, momen bersejarah itu datang.
Menit 45+.
Berawal dari situasi bola mati, Yoane Wissa berhasil lolos dari penjagaan dan menyambut bola dengan sundulan yang tak mampu dihentikan Diogo Costa.
Gol.
1-1.
Gol pertama DR Kongo dalam sejarah Piala Dunia.

“Bagi Portugal itu gol penyama kedudukan. Bagi DR Kongo itu sejarah.”
Perayaan para pemain Kongo langsung pecah.
Mereka tahu betapa besarnya momen tersebut.
Negara yang terakhir kali tampil di Piala Dunia pada tahun 1974 akhirnya kembali. Dan kini mereka memiliki gol pertama sekaligus poin pertama dalam sejarah turnamen.
Babak pertama berakhir 1-1.
Dan anehnya, semakin pertandingan berjalan, semakin terlihat siapa yang lebih percaya diri.
Bukan Portugal.
Melainkan DR Kongo.
Memasuki babak kedua, Roberto Martínez mencoba mengubah keadaan. Francisco Conceição dimasukkan untuk menambah kreativitas serangan. Portugal kembali menekan dan mencari gol kedua. Ronaldo beberapa kali mendapat peluang, Bruno Fernandes mencoba membuka pertahanan lawan, dan Nuno Mendes terus naik membantu serangan.
Namun pertahanan DR Kongo tampil luar biasa.
Setiap umpan silang dibuang.
Setiap ruang ditutup.
Setiap serangan Portugal seolah mentok sebelum benar-benar berbahaya.
Yang lebih mengejutkan, di beberapa momen akhir pertandingan justru DR Kongo terlihat lebih berbahaya.
Beberapa serangan balik mereka membuat lini belakang Portugal kerepotan. Bahkan ada perasaan bahwa jika sedikit lebih tenang dalam penyelesaian akhir, mereka bisa saja mencuri kemenangan.
Sementara itu Ronaldo menjalani sore yang cukup sunyi.
Tidak ada gol.
Tidak ada momen ikonik.
Tidak ada selebrasi “Siuuu”.
Yang tersisa hanya catatan sejarah bahwa ia kembali tampil di panggung terbesar sepak bola dunia.
Ketika peluit panjang dibunyikan, skor tetap bertahan.
Portugal 1.
DR Kongo 1.
Bagi Portugal, hasil ini terasa seperti kehilangan dua poin.
Bagi DR Kongo, ini terasa seperti kemenangan.
Karena mereka tidak hanya menahan salah satu favorit grup.
Mereka juga pulang membawa poin pertama dalam sejarah Piala Dunia negara mereka.
Dan mungkin itulah keindahan Piala Dunia.
Kadang tim besar datang untuk membuat sejarah.
Tapi yang benar-benar pulang dengan cerita terbaik justru tim yang tidak diunggulkan.
Rangkaian Gol
⚽ 6’ — João Neves (Portugal) 1-0
⚽ 45+1’ — Yoane Wissa (DR Kongo) 1-1
Hasil Akhir
Portugal 1-1 DR Kongo
Man of the Match: João Neves (Portugal)

“Portugal datang untuk menang. DR Kongo datang untuk bermimpi. Pada akhirnya, mimpi itu yang bertahan hingga peluit akhir.”