Hai, kalau ngomongin Cristiano Ronaldo, saya pertama kali kenal dia itu bukan dari TV, bukan dari YouTube, apalagi dari game bola. Tapi dari poster sepak bola yang dijual abang-abang depan SD. Dulu tuh abang-abang mainan jualannya lengkap banget. Dari pistol-pistolan, tamiya, yoyo, sampai poster bola gede yang kalau kena angin bunyinya prek prek.

Dan entah kenapa, waktu itu mata saya langsung berhenti ke satu poster Manchester United.

Di poster itu ada banyak pemain. Ada Wayne Rooney, Ryan Giggs, Paul Scholes, Rio Ferdinand, sampai Nemanja Vidić. Tapi dari semua pemain di situ, ada satu orang yang bikin saya bengong beberapa detik.

Cristiano Ronaldo.

Padahal waktu itu saya belum tahu dia siapa. Belum ngerti statistik, belum ngerti Ballon d'Or, bahkan aturan offside aja mungkin masih bingung. Tapi ada aura beda aja dari dia. Dari tatapan matanya, gayanya berdiri, sampai rambutnya yang waktu itu kayak kena gel setengah kilo.

Kayak ada suara kecil di kepala saya yang bilang:

“Inget nama ini. Beberapa tahun lagi dia bakal bikin dunia bola ribut.”

Dan ternyata bener.

Dari situ saya mulai ngikutin Ronaldo pelan-pelan. Awalnya cuma tahu nama, terus mulai lihat cuplikan gol di TV, sampai akhirnya tiap ada berita bola pasti nyari kabar dia main gimana.

Dan jujur aja, versi Ronaldo yang paling bikin saya kagum itu waktu dia di Real Madrid CF.

Di sana dia bukan lagi sekadar pemain bola. Dia tuh kayak boss terakhir game.

Mainnya simpel tapi mematikan. Dribblingnya gak terlalu banyak gaya freestyle muter-muter kayak orang lagi daftar ajang pencarian bakat, tapi selalu efektif. Bek lawan sering keliatan tahu Ronaldo mau ke mana… tapi tetep aja gak bisa berhentiin.

Belum lagi tendangan roketnya.

Kadang saya mikir bola yang dia tendang itu bukan bola biasa, tapi paving block dicat putih item.

Kalau dia shoot jarak jauh, kiper lawan sering cuma bisa pasrah sambil lihat bola lewat.

“Kalau Ronaldo nendang bola, yang panik bukan cuma kiper. Kameramen kadang ikut kehilangan arah.”

Tapi yang bikin saya paling respect sebenarnya bukan cuma skill-nya.

Melainkan perjalanan hidupnya.

Karena Cristiano Ronaldo bukan lahir dari keluarga kaya atau lingkungan elite. Dia datang dari Madeira, daerah kecil di Portugal yang dulu mungkin banyak orang bahkan belum tahu letaknya di mana.

Dia hidup sederhana sejak kecil. Pernah ngerasain susah, bantu keluarga, sampai harus berjuang pelan-pelan buat naik. Dan semua yang dia capai sekarang bukan datang tiba-tiba kayak cheat game.

Semua dibangun dari latihan.

Dari disiplin.

Dari kerja keras yang levelnya kadang bikin orang normal malas duluan.

Orang lain latihan sampai capek.

Ronaldo latihan sampai orang lain mikir, “Ini manusia apa NPC yang stamina-nya unlimited?”

Makanya saya kadang heran kalau ada yang bilang Ronaldo cuma modal fisik. Lah fisiknya bagus juga karena dia latihan terus, bukan karena rebahan sambil minum es teh tiap malam.

Dan hebatnya lagi, makin tua malah makin aneh performanya.

Pas di Juventus FC dia masih kayak superhero yang belum kena nerf update. Loncatannya gak masuk akal, sundulannya kayak melawan gravitasi, sampai salto yang bikin orang mikir itu editan CGI.

Padahal umurnya terus naik.

Tapi mental dan fisiknya masih kayak pemain umur 25.

“Bakat bisa bikin orang terkenal. Tapi disiplin bikin orang bertahan lama.”

Sekarang buat saya, Cristiano Ronaldo bukan cuma poster yang dulu saya lihat depan SD.

Dia simbol bahwa mimpi itu bisa dikejar serius.

Dari anak kecil di sudut pulau Madeira sampai jadi salah satu nama terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.

Dan semua itu dibangun pakai keringat, latihan, disiplin, mental baja, dan rasa lapar buat terus jadi lebih baik.

Makanya buat saya, Ronaldo bukan sekadar pemain bola.

Dia bukti hidup kalau orang biasa pun bisa naik setinggi mungkin… asal tahan capek, tahan diremehin, dan tahan proses yang kadang lebih panjang dari loading eFootball di HP kentang.