Akhirnya jadi juga.

Setelah drama semusim penuh, hitung-hitungan klasemen, tekanan di pekan terakhir, sampai fans yang tiap beberapa menit cek live score…

Persib Bandung resmi juara Liga 1 / BRI Super League musim 2025/2026.

Dan yang bikin khas sepak bola Indonesia: penentu juaranya harus sampai hitung head-to-head dulu.

Karena Persib dan Borneo FC sama-sama finis dengan 79 poin. Borneo bahkan menang besar di laga terakhir. Tapi regulasi liga mengutamakan duel pertemuan langsung, dan Persib unggul di situ.

Asli ini tipe akhir musim yang bikin jantung bobotoh kerja tanpa cooldown.

Dan jujur ya, saya juga bobotoh.

Sore itu saya nonton bareng bapak-bapak di warung samping Indomaret. Suasananya khas banget:

  • kopi sachet,
  • suara motor lewat,
  • obrolan bapak-bapak yang kadang lebih rame dari komentator,
  • dan TV LED yang jadi pusat perhatian semua orang.

Pas adzan maghrib mulai terdengar, sebagian bapak-bapak langsung jalan ke mushola. Tinggal beberapa orang yang masih bertahan depan TV.

Dan saya? Masih mantengin layar karena waktunya tinggal sedikit lagi.

Asli itu rasanya tegang banget.

Karena semua orang tahu: satu gol bisa mengubah semuanya.

“Sepak bola Indonesia itu unik. Kadang yang bikin capek bukan pertandingannya, tapi hitung-hitungan klasemennya.”

Persib sendiri memastikan gelar setelah imbang 0-0 lawan Persijap Jepara. Dan walaupun hasilnya bukan kemenangan dramatis atau gol menit akhir, satu poin itu cukup buat bikin Bandung ramai.

Karena sekarang Persib resmi mencetak:

three-peat.

Tiga kali juara liga beruntun.

Dan jujur saja, itu gila.

Karena di sepak bola Indonesia, mempertahankan konsistensi itu susah banget. Liga panjang, tekanan besar, drama banyak, dan netizen juga tidak pernah benar-benar tenang.

Makanya ketika Persib bisa tetap ada di atas selama tiga musim berturut-turut, itu bukan keberuntungan lagi.

Itu memang kualitas.

Yang saya suka dari Persib musim ini adalah mereka tidak selalu tampil sempurna, tapi tahu cara bertahan ketika musim mulai berat. Ada fase ketika permainan mereka dikritik, ada momen ketika rival mulai mendekat, tapi mereka tetap menjaga ritme.

Dan di liga seperti Indonesia, itu penting banget.

“Juara liga bukan cuma soal siapa paling bagus mainnya. Tapi siapa yang paling tahan melewati musim panjang.”

Asli saya yakin setelah peluit akhir tadi, Bandung langsung berubah.

Motor mulai ramai.

Orang-orang keluar rumah.

Lagu Persib mulai terdengar di mana-mana.

Dan mungkin ada bapak-bapak yang habis balik dari mushola langsung bilang:

“Alhamdulillah Persib juara deui.”

Karena buat bobotoh, ini bukan sekadar trofi.

Ini kebanggaan kota.

Dan jujur ya, nonton momen seperti itu di warung kecil pinggir jalan malah bikin rasanya lebih dapet. Tidak mewah, tidak di stadion, tapi suasananya hidup banget.

Orang-orang yang bahkan tidak saling kenal bisa teriak bareng cuma karena satu klub yang sama.

Mungkin itu kenapa sepak bola selalu terasa dekat.

Karena kadang kebahagiaan paling sederhana memang datang dari: TV warung, kopi murah, dan klub kesayangan yang akhirnya juara.

Sumber