Belakangan ini rumor tentang José Mourinho balik ke Real Madrid CF mulai ramai lagi. Dan jujur saja, waktu pertama kali baca berita itu saya langsung mikir:
“Wah, ini dunia bola mau chaos lagi ya.”
Karena kalau ngomongin Mourinho dan Madrid, itu bukan cuma soal pelatih dan klub. Itu sudah seperti mantan yang dulu ribut besar, saling menyakiti, tapi entah kenapa tiap beberapa tahun sekali selalu dikait-kaitkan lagi.
Dan lucunya, banyak fans Madrid yang dulu capek sama dramanya sekarang malah mulai bilang:
“Kayaknya Mourinho doang yang bisa benerin ini tim.”
Ironis memang. Tapi sepak bola memang kadang lebih aneh dari hubungan percintaan anak tongkrongan.
Rumor Mourinho kembali ke Madrid memang lagi panas setelah musim Madrid dianggap berantakan. Mulai dari konflik internal, performa yang naik turun, sampai suasana ruang ganti yang katanya kurang sehat. Beberapa media Eropa bahkan bilang Mourinho jadi kandidat paling serius buat balik ke Bernabéu.

Dan jujur saja, kalau benar terjadi, itu bakal jadi salah satu comeback paling absurd dalam sejarah sepak bola modern.
“Sebagian orang datang untuk melatih tim. Mourinho datang untuk menciptakan cerita.”
Saya pertama kali kenal Mourinho itu bukan karena taktiknya.
Bukan juga karena trofinya.
Tapi karena mulutnya.
Asli.
Dia itu kalau konferensi pers bukan terasa seperti wawancara pelatih, tapi seperti orang yang siap perang dengan semua orang di ruangan.
Kadang nyindir wartawan.
Kadang nyindir wasit.
Kadang nyindir pemain sendiri.
Dan anehnya, malah jadi ikonik.
Salah satu kalimat Mourinho yang paling legendaris tentu saja:
“Please don’t call me arrogant, but I’m European champion and I think I’m a special one.”
Dan sejak hari itu dunia sepak bola melahirkan satu karakter utama baru: The Special One.
Tapi di balik semua drama dan omongannya, Mourinho memang pelatih besar. Waktu pertama kali datang ke Madrid tahun 2010, kondisi Madrid juga sebenarnya sedang kacau. Mereka terus kalah aura dari Barcelona-nya Guardiola. Bahkan di Liga Champions sering mentok sebelum semifinal.
Lalu datang Mourinho.
Dan tiba-tiba Madrid berubah jadi tim yang galak.
Tim yang ngeselin.
Tim yang kalau main lawan Barcelona sudah tidak takut lagi.
Bahkan di era Mourinho, Madrid pernah mencetak rekor 100 poin di La Liga dan jadi salah satu tim paling ganas dalam sejarah liga Spanyol.
“Madrid sebelum Mourinho itu besar. Madrid bersama Mourinho jadi beringas.”
Tapi ya namanya Mourinho, di mana ada dia pasti ada drama.
Mulai dari konflik sama pemain, perang dengan media, sampai momen colok mata Tito Vilanova yang sampai sekarang masih jadi meme sepak bola dunia. Dan jujur saja, saya kadang heran bagaimana satu orang bisa bikin suasana stadion terasa seperti medan perang.
Tapi mungkin itu memang Mourinho.
Dia bukan tipe pelatih yang datang untuk disukai semua orang.
Dia datang untuk menang.
Dan sekarang, ketika Madrid lagi kehilangan arah, banyak orang mulai merasa sosok seperti Mourinho justru dibutuhkan lagi. Media-media Eropa menyebut Madrid sedang mencari “penyelamat” setelah musim tanpa trofi dan banyak masalah internal.
Lucunya, semakin tua Mourinho malah semakin terasa cocok buat comeback.
Karena sepak bola modern sekarang terlalu penuh pencitraan.
Semua orang terlalu hati-hati bicara.
Sedangkan Mourinho?
Masih seperti bapak-bapak komplek yang kalau marah tidak kenal sensor.
“Kalau pelatih lain datang membawa taktik, Mourinho datang membawa aura perang.”
Dan saya rasa itu alasan kenapa banyak orang diam-diam ingin dia balik ke Madrid.
Bukan semata karena trofi.
Tapi karena sepak bola butuh karakter seperti dia.
Sepak bola butuh orang yang bikin pertandingan terasa panas.
Yang bikin konferensi pers lebih ditunggu daripada sinetron prime time.
Yang bikin rivalitas terasa hidup.
Karena jujur saja, sepak bola tanpa drama sedikit itu kadang terasa hambar.
Dan Mourinho selalu tahu cara membuat dunia bola tetap ribut.
Sampai hari ini memang belum ada pengumuman resmi soal dia kembali ke Madrid. Mourinho sendiri masih belum memberi jawaban pasti soal masa depannya walaupun rumor makin kuat.
Tapi kalau suatu hari nanti benar Mourinho berdiri lagi di pinggir lapangan Bernabéu memakai jas hitam sambil muka serius…
Saya rasa seluruh dunia bola bakal punya satu reaksi yang sama:
“Ah sial… akhirnya balik juga.”