Setiap tahun selalu ada orang yang bilang Monaco sudah tidak layak ada di Formula 1.
Alasannya hampir selalu sama.
Sulit menyalip.
Terlalu bergantung pada kualifikasi.
Pemenangnya sudah ketahuan sejak hari Sabtu.
Dan untuk beberapa lap pertama Monaco GP 2026, rasanya mereka hampir benar.
Kimi Antonelli start dari pole position. Max Verstappen berada tepat di sampingnya di baris depan. Ferrari membawa harapan lewat Lewis Hamilton dan Charles Leclerc. Semua orang menunggu duel Antonelli vs Verstappen yang sudah dibangun sejak sesi kualifikasi.
Tapi Monaco punya rencana lain.
Bahkan sebelum balapan benar-benar dimulai, Verstappen sudah merasakan ada sesuatu yang tidak beres pada mobilnya. Formation lap berjalan buruk. Saat lampu start padam, Red Bull miliknya tidak meluncur seperti biasanya. Mobil kehilangan tenaga, berjalan lambat mengelilingi sirkuit, lalu kembali ke garasi. Balapan Max Verstappen selesai hanya dalam satu lap.
“Kadang balapan terberat adalah balapan yang bahkan tidak sempat kamu jalani.”
Buat fans Red Bull, itu seperti mimpi buruk.
P2 di kualifikasi.
Peluang menang masih terbuka.
Lalu semua harapan hilang bahkan sebelum pertarungan pertama terjadi.
Sejak Verstappen menghilang dari persaingan, Antonelli mulai melakukan apa yang sudah sering ia lakukan musim ini: mengendalikan balapan dari depan.
Dan jujur saja, semakin lama musim berjalan, semakin sulit menyebut pembalap Italia berusia 19 tahun itu sebagai rookie.
Dia terlihat seperti veteran yang kebetulan masih remaja.
Hamilton mencoba menjaga jarak. Ferrari mencoba tetap berada dalam jangkauan. Oscar Piastri juga terus menempel di kelompok depan. Tapi tidak ada yang benar-benar mampu mengganggu ritme Antonelli.
Sampai Monaco mulai menunjukkan sisi gilanya.
Memasuki bagian akhir balapan, Lance Stroll menabrak pembatas di Antony Noghes. Safety Car keluar. Keunggulan Antonelli yang sempat mendekati 30 detik langsung menguap begitu saja. Tiba-tiba balapan yang terlihat aman berubah menjadi terbuka kembali.
Belum selesai.
Tidak lama setelah itu, Charles Leclerc mengalami kecelakaan di area yang sama. Bukan hanya mobil Ferrari yang rusak, permukaan trek juga ikut rusak. Race Control akhirnya mengibarkan Red Flag dan balapan dihentikan sementara.
Monaco yang biasanya berjalan seperti arloji Swiss mendadak berubah menjadi sesi kekacauan.
Mobil berhenti.
Strategi berubah.
Tim-tim mulai menghitung ulang semuanya.
Dan ketika balapan kembali dilanjutkan, tersisa delapan lap sprint menuju finis.
“Monaco tidak membutuhkan hujan untuk menciptakan drama. Kadang cukup satu dinding dan sedikit aspal yang rusak.”
Di belakang Antonelli, keadaan bahkan lebih liar.
George Russell kehilangan banyak posisi akibat penalti yang membuat akhir pekannya berantakan. Pierre Gasly terkena hukuman yang membuat peluang podium menghilang. Isack Hadjar sempat berada dalam investigasi terkait pelanggaran saat periode Red Flag. Bahkan Sergio Perez yang awalnya berhasil membawa Cadillac meraih poin pertamanya harus menghadapi penyelidikan setelah balapan.
Sementara itu daftar DNF terus bertambah.
Verstappen menjadi korban pertama.
Lando Norris kemudian ikut tersingkir karena masalah teknis. Oliver Bearman gagal mencapai finis. Valtteri Bottas juga harus berhenti lebih awal. Lance Stroll dan Charles Leclerc menutup hari yang buruk dengan masuk daftar pembalap yang tidak melihat bendera kotak-kotak.
Dan di tengah semua kekacauan itu?
Antonelli tidak pernah terlihat panik.
Tidak pernah terlihat kehilangan kendali.
Tidak pernah terlihat terganggu.
Ketika balapan kembali dimulai setelah Red Flag, ia langsung melakukan apa yang dibutuhkan. Menjaga Hamilton tetap berada di belakang dan membawa Mercedes menuju kemenangan.
Lewis Hamilton finis kedua dan menyamai rekor delapan podium Monaco milik Ayrton Senna. Sebuah pencapaian yang luar biasa, meskipun kali ini ia tetap harus melihat bagian belakang Mercedes nomor 12 sepanjang sore. Isack Hadjar melengkapi podium dan memberikan hasil besar bagi Red Bull di hari ketika Verstappen bahkan tidak sempat bertarung.
“Ketika semua orang sibuk bertahan dari kekacauan, Antonelli justru terlihat seperti sedang mengendalikannya.”
Hasil akhirnya?
Antonelli menang.
Lima kemenangan beruntun.
Pemimpin klasemen dunia.
Pemenang termuda dalam sejarah Monaco Grand Prix.
Dan sekarang keunggulan poinnya mulai terlihat mengkhawatirkan bagi para rival.
Jadi kalau ada yang masih bilang Monaco membosankan, mungkin mereka tidak menonton balapan tahun ini.
Karena Monaco GP 2026 memberikan hampir semuanya.
DNF Verstappen.
Crash Leclerc.
Safety Car.
Red Flag.
Penalti.
Drama strategi.
Dan seorang remaja Italia yang semakin hari semakin terlihat seperti tokoh utama musim Formula 1 2026.