Kalau ada pertandingan yang paling menyakitkan di fase grup Piala Dunia 2026, mungkin inilah jawabannya.
Mesir hanya membutuhkan hasil imbang untuk memastikan sejarah baru.
Iran datang dengan misi lebih berat. Mereka harus menang agar bisa lolos otomatis ke babak 32 besar untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Selama 90 menit, kedua tim bertarung habis-habisan.
Lalu semuanya ditentukan oleh satu tayangan VAR.
Mesir membuka pertandingan dengan sempurna.
Baru lima menit laga berjalan, Mohamed Salah menusuk ke dalam kotak penalti dan membuat pertahanan Iran kacau. Bola kemudian jatuh ke kaki Mahmoud Saber, yang melepaskan tembakan di antara kaki Alireza Beiranvand.
Gol.
1-0 Mesir.

Lumen Field bergemuruh. Gol cepat itu membuat Mesir berada di jalur menuju babak gugur.
Namun Iran merespons dengan luar biasa.
Menit ke-14, Iran mendapatkan hadiah penalti setelah pelanggaran di kotak terlarang. Mostafa Shobeir memang berhasil menepis eksekusi pertama, tetapi bola muntah langsung disambar Ramin Rezaeian menjadi gol.
1-1.

Iran hidup kembali.
Setelah dua gol cepat itu, pertandingan berubah menjadi duel yang sangat ketat.
Mesir lebih banyak menguasai bola melalui Salah dan Trézéguet, sedangkan Iran mengandalkan Mehdi Taremi sebagai target man dan serangan balik cepat.
Peluang datang silih berganti, tetapi kedua kiper tampil gemilang menjaga skor tetap imbang.
“Ada pertandingan yang ditentukan oleh kualitas. Ada juga yang ditentukan oleh satu sentimeter.”
Memasuki babak kedua, tensi pertandingan semakin meningkat.
Iran terlihat lebih berani menyerang karena mereka tahu hasil imbang belum tentu cukup.
Di sisi lain, Mesir mulai bermain lebih hati-hati demi mempertahankan poin yang akan mengantar mereka ke babak gugur untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Mostafa Shobeir menjadi penyelamat Mesir lewat beberapa penyelamatan penting, termasuk menggagalkan peluang emas Mehdi Taremi.
Drama sesungguhnya baru datang pada masa injury time.
Menit ke-93.
Kemelut terjadi di depan gawang Mesir. Bola liar disambar Shoja Khalilzadeh menjadi gol.
Pemain Iran langsung berlari merayakan.
Bangku cadangan ikut masuk ke lapangan.
Mereka mengira tiket babak 32 besar sudah berada di tangan.
Namun wasit Szymon Marciniak mendapat panggilan dari ruang VAR.
Pemeriksaan berlangsung cukup lama.
Seluruh stadion menunggu.
Keputusan akhirnya keluar.
Offside.
Gol dianulir.
Perayaan berubah menjadi keheningan.
Harapan berubah menjadi kekecewaan.
Peluit panjang berbunyi beberapa saat kemudian.
Mesir bertahan dengan skor 1-1 dan resmi lolos ke babak 32 besar sebagai runner-up Grup G. Mereka kini akan menghadapi Australia di fase gugur.
Iran harus puas finis di peringkat ketiga dengan tiga poin dari tiga hasil imbang. Nasib mereka sempat bergantung pada hasil grup lain untuk menentukan apakah cukup menjadi salah satu peringkat ketiga terbaik.
Bagi Mesir, ini adalah malam bersejarah.
Bagi Iran, ini adalah malam yang akan terus menghantui.
Karena mereka sempat menyentuh babak gugur…
…sebelum VAR mengambilnya kembali.
Rangkaian Gol
⚽ 5’ — Mahmoud Saber (Mesir) 1-0
🧤 14’ — Mostafa Shobeir menggagalkan penalti Iran
⚽ 14’ — Ramin Rezaeian (Iran) 1-1 (bola muntah)
❌ 90+3’ — Gol Shoja Khalilzadeh dianulir VAR karena offside.
Hasil Akhir
Mesir 1-1 Iran 🇪🇬🇮🇷
Man of the Match: Ramin Rezaeian 🏆
Ramin Rezaeian kembali menjadi sosok paling berpengaruh bagi Iran. Setelah Mehdi Taremi gagal mengeksekusi penalti, Rezaeian dengan sigap menyambar bola muntah untuk menyamakan kedudukan. Sepanjang pertandingan ia juga aktif membantu serangan dari sisi kanan sekaligus disiplin saat bertahan. Meski Iran gagal mengamankan kemenangan akibat gol di masa injury time dianulir VAR, penampilan Rezaeian tetap layak diganjar penghargaan Player of the Match.

“Iran sempat merayakan sejarah. Lalu VAR menghapusnya dalam hitungan detik.”