Kalau ada yang datang terlambat satu menit ke pertandingan ini, kemungkinan besar mereka sudah ketinggalan momen terpentingnya.
Serius.
Karena Maroko hanya membutuhkan sekitar 70 detik untuk menghancurkan rencana permainan Skotlandia.
Kick-off baru saja dimulai.
Para pemain bahkan belum benar-benar berkeringat.
Lalu Ismael Saibari menerima bola di depan kotak penalti, menemukan sedikit ruang, dan melepaskan tembakan keras yang menghujam gawang Angus Gunn.
Gol.
Baru satu menit lebih sedikit.
Skor sudah 1-0.

Itu bukan hanya gol tercepat pertandingan.
Itu juga menjadi gol tercepat di Piala Dunia 2026 sejauh ini.
Dan sejak saat itu, pertandingan berjalan sesuai kemauan Maroko.
Skotlandia yang datang dengan modal kemenangan atas Haiti terlihat seperti tim yang belum siap menerima pukulan secepat itu. Mereka kesulitan membangun serangan, sulit keluar dari tekanan, dan beberapa kali dipaksa bertahan sangat dalam.
Sementara itu Maroko bermain seperti tim yang sedang sangat percaya diri.
Achraf Hakimi terus naik membantu serangan.
Azzedine Ounahi mengontrol tempo.
El Khannouss berkali-kali menemukan ruang.
Dan Saibari terlihat seperti pemain yang sedang menikmati hidup.
Harusnya skor bisa lebih besar.
Jujur saja.
Maroko menciptakan cukup banyak peluang untuk menutup pertandingan jauh sebelum peluit akhir berbunyi. Tapi masalah yang sama seperti saat menghadapi Brasil kembali muncul.
Mereka sangat bagus dalam membangun serangan.
Mereka sangat bagus dalam menguasai permainan.
Tapi penyelesaian akhirnya masih belum setajam yang seharusnya.
“Maroko bermain seperti tim besar. Mereka hanya belum mencetak gol sebanyak tim besar.”
Babak pertama praktis menjadi milik Singa Atlas.
Skotlandia nyaris tidak memberikan ancaman berarti.
Namun memasuki babak kedua, pertandingan mulai berubah.
Steve Clarke melakukan beberapa penyesuaian. Scott McTominay didorong lebih maju dan Skotlandia mulai bermain lebih berani. Mereka akhirnya mampu membawa bola lebih sering ke area pertahanan Maroko dan membuat pertandingan sedikit lebih hidup.
Di sinilah tensi mulai naik.
Skotlandia beberapa kali meminta penalti.
Ada satu momen ketika McTominay terjatuh di kotak penalti dan seluruh kubu Skotlandia langsung mengangkat tangan.
Wasit bergeming.
VAR juga tidak mengubah keputusan.
Keputusan itu langsung menjadi bahan perdebatan setelah pertandingan berakhir. Banyak pendukung Skotlandia merasa mereka dirugikan, sementara kubu Maroko menganggap keputusan wasit sudah tepat.
Meski begitu, harus diakui bahwa peluang terbaik tetap milik Maroko.
Mereka terus menemukan ruang saat menyerang balik dan beberapa kali memaksa Angus Gunn melakukan penyelamatan penting. Kalau bukan karena sang kiper, skor bisa saja menjadi 2-0 atau 3-0.
Menit-menit akhir berlangsung menegangkan.
Skotlandia mencoba melempar semuanya ke depan.
Umpan silang.
Bola mati.
Serangan langsung.
Apa saja yang bisa dilakukan.
Tapi pertahanan Maroko kembali menunjukkan kenapa mereka pernah mencapai semifinal Piala Dunia 2022. Mereka bertahan dengan disiplin dan tidak memberikan ruang untuk gol penyeimbang.
Ketika peluit panjang berbunyi, skor tetap 1-0.
Bukan kemenangan terbesar.
Bukan kemenangan paling spektakuler.
Tapi mungkin salah satu kemenangan paling penting.
Karena hasil ini membuat Maroko memimpin Grup C dengan empat poin dari dua pertandingan dan berada di posisi yang sangat bagus untuk lolos ke babak gugur. Sementara Skotlandia kini harus menghadapi Brasil di laga terakhir dengan tekanan yang jauh lebih besar.
Dan semua itu berawal dari satu tembakan.
Satu gol.
Dalam 70 detik.
Rangkaian Gol
⚽ 2’ — Ismael Saibari (Maroko) 1-0
Hasil Akhir
Maroko 1-0 Skotlandia
Man of the Match: Ismael Saibari — mencetak gol tercepat turnamen dan kembali menjadi pembeda bagi Maroko.

“Skotlandia punya 89 menit untuk membalas. Maroko hanya butuh 70 detik untuk menang.”