Banyak yang mengira Kroasia sudah habis.
Kekalahan dari Inggris di laga pembuka membuat banyak kritik mengarah kepada Zlatko Dalić. Usia para pemain dianggap terlalu tua, permainan dinilai mulai kehilangan identitas, bahkan ada yang menyebut era emas Kroasia akhirnya selesai.
Namun di Philadelphia, mereka menjawab semuanya.
Menghadapi Ghana pada laga terakhir Grup L, Kroasia hanya membutuhkan satu poin untuk lolos. Sementara Ghana sebenarnya sudah mengamankan tiket ke babak 32 besar sebagai salah satu tim terbaik di grup, tetapi tetap ingin menutup fase grup dengan hasil positif.
Sejak menit awal, Kroasia tampil lebih berani.
Luka Modrić mengatur tempo permainan seperti biasa, ditemani Mateo Kovačić yang aktif memutus serangan Ghana sebelum membangun serangan dari lini tengah.
Meski penguasaan bola cukup berimbang, Kroasia lebih berbahaya setiap kali memasuki sepertiga akhir lapangan.
Gol yang ditunggu akhirnya datang pada menit ke-31.
Petar Sučić menerima bola di luar kotak penalti.
Tanpa banyak pikir, gelandang muda itu melepaskan tembakan keras mendatar yang meluncur ke pojok gawang.
Benjamin Asare hanya terpaku.
Gol.
1-0 Kroasia.

Gol indah yang membuat Vatreni semakin percaya diri.
Babak pertama pun ditutup dengan keunggulan Kroasia.
Namun Ghana bukan tanpa perlawanan.
Carlos Queiroz mengubah pendekatan timnya selepas turun minum dan mulai berani menekan lebih tinggi.
“Kroasia menguasai permainan. Ghana menunggu momen yang tepat.”
Momen itu akhirnya datang pada menit ke-73.
Kemelut terjadi di depan gawang Dominik Livaković.
Derrick Luckassen berhasil menyambar bola menjadi gol, tetapi perayaan Ghana langsung tertunda karena wasit mendapat panggilan VAR.
Pemeriksaan berlangsung cukup lama.
Seluruh stadion menunggu.
Keputusan akhirnya keluar.
Gol sah.
VAR menyatakan tidak ada offside.

Skor berubah menjadi 1-1 dan Ghana kembali percaya diri.
Namun Kroasia hanya membutuhkan sepuluh menit untuk membalas.
Menit ke-83.
Luka Modrić mengirim sepak pojok sempurna ke tengah kotak penalti.
Nikola Vlasić melompat paling tinggi dan menanduk bola ke sudut gawang.
Gol.
2-1.

Gol yang membuat bangku cadangan Kroasia langsung meledak dalam perayaan.
Di usia 40 tahun, Modrić kembali menunjukkan kelasnya.
Assist tersebut menjadikannya pemain tertua yang mencatat assist di Piala Dunia sejak data modern mulai dicatat pada 1966.
Sekali lagi, legenda Real Madrid itu membuktikan bahwa umur hanyalah angka.
Menit-menit akhir berlangsung menegangkan.
Ghana mencoba menyamakan kedudukan, tetapi pertahanan Kroasia tampil disiplin hingga peluit panjang dibunyikan.
Kemenangan 2-1 memastikan Kroasia finis sebagai runner-up Grup L dan melaju ke babak 32 besar.
Sementara Ghana tetap lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik, sehingga kedua tim sama-sama melanjutkan perjalanan di Piala Dunia 2026.
Yang paling membahagiakan bagi Kroasia bukan hanya kemenangan ini.
Tetapi fakta bahwa ketika pertandingan harus ditentukan oleh satu momen penting…
Luka Modrić masih menjadi jawabannya.
Rangkaian Gol
⚽ 31’ — Petar Sučić (Kroasia) 1-0
⚽ 73’ — Derrick Luckassen (Ghana) 1-1
⚽ 83’ — Nikola Vlasić (Kroasia) 2-1 (assist Luka Modrić)
Hasil Akhir
Kroasia 2-1 Ghana 🇭🇷🇬🇭
Man of the Match: Petar Sučić 🏆
Petar Sučić menjadi pemain paling menonjol dalam kemenangan Kroasia atas Ghana. Ia membuka keunggulan lewat tembakan keras dari luar kotak penalti yang memecah kebuntuan, lalu tampil dominan di lini tengah sepanjang pertandingan. Selain rajin memutus serangan lawan, Sučić juga menjadi penghubung utama antara lini tengah dan lini depan, membuat Ghana kesulitan mengembangkan permainan.

“Petar Sučić bukan hanya mencetak gol pembuka. Ia menjadi mesin yang menjaga Kroasia tetap hidup sepanjang 90 menit.”