Kalau melihat skor akhirnya saja, orang mungkin mengira ini pertandingan yang cukup seimbang.

Korea Selatan menang 2-1 atas Ceko.

Selesai.

Tiga poin masuk.

Lanjut ke laga berikutnya.

Padahal kalau menonton 90 menit penuh, ceritanya jauh lebih menarik dari itu.

Karena selama hampir satu jam pertandingan, Korea Selatan seperti tim yang sedang mencoba membuka pintu yang terus-menerus dikunci dari dalam. Mereka menyerang, menekan, menguasai bola, menciptakan peluang, tetapi gol tak kunjung datang. 

Sejak menit awal, Korea sebenarnya tampil lebih baik.

Lee Kang-in sempat menguji Matej Kovar lewat tendangan keras pada menit ke-14. Son Heung-min juga memperoleh beberapa peluang yang biasanya akan ia konversi menjadi gol. Namun malam itu bukan malam terbaik sang kapten. Tendangan melenceng, peluang terbuang, dan Kovar terus berdiri di tempat yang tepat. 

Babak pertama berakhir tanpa gol.

0-0.

Dan meski skor masih imbang, rasanya Korea sudah melakukan cukup banyak hal untuk unggul.

Masalahnya, sepak bola tidak memberikan poin untuk tim yang “lebih layak” menang.

“Sepak bola punya kebiasaan aneh. Kadang tim yang bermain lebih baik justru yang lebih dulu dihukum.”

Itulah yang terjadi pada menit ke-59.

Ceko mendapatkan lemparan jauh dari sisi kanan. Vladimir Coufal melempar bola ke dalam kotak penalti dan Ladislav Krejci melompat lebih tinggi dari semua orang. Sundulannya meluncur deras ke gawang Kim Seung-gyu.

Gol.

Ceko unggul 1-0. 

Dan jujur saja, gol itu terasa datang dari luar naskah.

Korea yang mendominasi.

Korea yang menciptakan peluang.

Tapi Ceko yang memimpin.

Selama beberapa menit stadion Guadalajara mendadak sunyi dari sisi pendukung Korea. Mereka tahu timnya bermain baik, tetapi papan skor berkata lain. 

Untungnya Korea tidak panik.

Mereka tetap bermain dengan cara yang sama.

Tetap menekan.

Tetap sabar.

Dan delapan menit kemudian, kesabaran itu dibayar lunas.

Hwang In-beom menerima bola di area berbahaya. Dengan tenang ia mengangkat bola melewati Kovar yang keluar dari sarangnya.

Gol.

1-1.

Pertandingan hidup kembali. 

Kalau ada satu pemain yang paling menentukan jalannya laga malam itu, namanya adalah Hwang In-beom.

Bukan hanya karena golnya.

Tapi karena setelah menyamakan kedudukan, ia langsung mengambil alih kendali pertandingan.

Setiap serangan Korea melewati kakinya.

Setiap transisi terlihat lebih rapi saat ia memegang bola.

Dan akhirnya ia kembali muncul pada momen penentu.

Menit ke-80.

Hwang menerima bola di lini tengah dan mengirim umpan rendah ke arah pemain pengganti Oh Hyeon-gyu. Striker yang baru masuk itu tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Satu sentuhan.

Satu penyelesaian.

Gol.

Korea berbalik unggul 2-1. 

Stadion meledak.

Bangku cadangan Korea ikut berlari.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, hasil pertandingan terasa mulai mengarah ke satu sisi.

Ceko mencoba bangkit.

Mereka mengirim bola-bola panjang ke depan dan berusaha memanfaatkan keunggulan fisik mereka.

Bahkan sempat ada bola yang masuk ke gawang Korea pada menit-menit akhir.

Namun gol tersebut dianulir karena offside. Harapan terakhir Ceko pun menghilang begitu saja. 

Ketika peluit panjang berbunyi, para pemain Korea merayakan kemenangan yang terasa sangat layak mereka dapatkan.

Karena selama 90 menit, mereka memang tim yang lebih baik.

Son Heung-min memang gagal mencetak gol.

Tapi untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Korea menunjukkan bahwa mereka tidak sepenuhnya bergantung pada Son.

Ada Lee Kang-in.

Ada Kim Min-jae.

Ada Hwang In-beom.

Dan sekarang ada Oh Hyeon-gyu yang muncul sebagai pahlawan baru. 

Piala Dunia selalu menyukai cerita comeback.

Dan Korea Selatan baru saja menulis salah satu yang pertama di turnamen ini.

Rangkaian Gol

⚽ 59’ — Ladislav Krejci (Ceko) 0-1

⚽ 67’ — Hwang In-beom (Korea Selatan) 1-1

⚽ 80’ — Oh Hyeon-gyu (Korea Selatan) 2-1 

Hasil Akhir

Korea Selatan 2-1 Ceko

Man of the Match: Hwang In-beom. Ia mencetak gol penyeimbang sekaligus memberikan assist untuk gol kemenangan. 

“Ceko sempat membuat Korea terjatuh. Masalahnya, Korea memilih untuk bangkit.”