Banyak yang mengira pertandingan ini akan berjalan santai.

Toh, Kolombia dan Portugal sama-sama sudah memastikan tiket ke babak 32 besar.

Yang diperebutkan hanya satu hal: status juara Grup K.

Namun begitu peluit pertama dibunyikan, semua anggapan itu langsung hilang.

Pertandingan berubah menjadi salah satu duel paling intens di fase grup Piala Dunia 2026. 

Kolombia langsung mengambil inisiatif.

Didukung puluhan ribu suporter yang membuat Hard Rock Stadium terasa seperti kandang sendiri, Los Cafeteros bermain agresif sejak awal. Jhon Arias menjadi motor serangan, sementara James Rodríguez berkali-kali membuka ruang lewat umpan-umpan terukurnya.

Peluang pertama datang ketika Jhon Córdoba memaksa Diogo Costa melakukan penyelamatan penting. Tak lama kemudian, Arias kembali mengancam, tetapi tendangannya berhasil disapu tepat di garis gawang oleh Rúben Neves. 

Portugal sempat kesulitan keluar dari tekanan.

Baru setelah jeda cooling break, permainan tim asuhan Roberto Martínez mulai membaik.

Bruno Fernandes hampir membawa Portugal unggul, tetapi Camilo Vargas melakukan penyelamatan gemilang. João Félix dan Cristiano Ronaldo juga mendapatkan peluang, namun penyelesaian akhir masih belum menemui sasaran. 

“Skornya memang 0-0. Tapi ritme pertandingannya seperti laga basket, serangan berganti tanpa henti.” 

Babak kedua berjalan semakin terbuka.

Kolombia kembali mendominasi penguasaan bola dan terus menekan pertahanan Portugal. Richard Ríos, Luis Díaz, hingga pemain pengganti Luis Suárez bergantian mencoba membobol gawang lawan.

Namun di bawah mistar, Diogo Costa tampil luar biasa.

Kiper Portugal itu berkali-kali menggagalkan peluang emas Kolombia dan menjadi alasan utama mengapa skor tetap imbang. 

Drama terbesar hadir pada masa injury time.

Menit ke-90+1.

Davinson Sánchez menyundul bola ke gawang Portugal.

Para pemain Kolombia langsung merayakan gol yang mereka kira menjadi gol kemenangan.

Namun VAR berbicara.

Setelah pemeriksaan cukup lama, gol tersebut dianulir karena Davinson Sánchez berada dalam posisi offside dengan selisih yang sangat tipis.

Hanya beberapa sentimeter.

Perayaan berubah menjadi rasa frustrasi. 

Tak lama kemudian, peluit panjang dibunyikan.

Skor tetap 0-0.

Meski gagal meraih kemenangan, hasil tersebut sudah cukup bagi Kolombia untuk finis sebagai juara Grup K dengan tujuh poin. Portugal menyusul di posisi kedua dengan lima poin.

Di babak 32 besar, Kolombia akan menghadapi Ghana, sedangkan Portugal ditantang Kroasia. 

Tidak ada gol.

Tetapi tidak ada yang bisa mengatakan pertandingan ini membosankan.

Karena selama 90 menit, kedua tim mempertontonkan duel dengan tempo tinggi, peluang berlimpah, dan drama VAR yang membuat semua penonton menahan napas hingga detik terakhir.

Momen Penting

🧤 Diogo Costa menggagalkan beberapa peluang emas Kolombia.

🛡️ Rúben Neves menyapu bola di garis gawang untuk menyelamatkan Portugal.

❌ 90+1’ — Gol Davinson Sánchez dianulir VAR karena offside tipis. 

Hasil Akhir

Kolombia 0-0 Portugal 🇨🇴🇵🇹

Man of the Match: Diogo Costa 🏆

Kiper Portugal menjadi tembok yang tak mampu ditembus Kolombia. Diogo Costa melakukan sejumlah penyelamatan krusial sepanjang laga dan menjaga gawang Portugal tetap perawan saat terus ditekan. Penampilannya membuat Portugal membawa pulang satu poin sekaligus mengamankan posisi runner-up Grup K. 

“Kadang skor 0-0 tidak menceritakan apa pun. Tapi laga ini justru membuktikan bahwa sepak bola hebat tidak selalu membutuhkan gol.”