Di cerita sebelumnya, saya sudah menceritakan diri saya semampunya. Kalau menurut kalian cerita itu menarik, syukur. Kalau tidak, ya tidak apa-apa juga. Hidup memang tidak selalu butuh validasi, kadang cuma butuh upload lalu berharap ada yang baca sampai selesai.

Oh iya, saya juga sudah bilang kalau saya kuliah di Universitas Swadaya Gunung Jati. Itu kampus saya. Dan tentu saja, di kampus saya juga punya teman-teman yang seru, keren, dan kadang aneh dalam kadar yang pas untuk membuat hidup lebih berwarna.

Nah, kali ini saya ingin membahas sesuatu yang cukup penting dalam kehidupan pertemanan saya. Bukan soal tugas. Bukan soal dosen. Bukan soal nilai. Tapi soal nama perkumpulan kami.

Namanya…

KEBON.

Iya, KEBON.

Nama yang kalau didengar orang mungkin langsung mikir, “Ini perkumpulan apa taman belakang rumah?”

Padahal justru di situlah letak keindahannya. Orang lain namanya dibuat keren, gagah, penuh aura organisasi. Kami? Malah kebon. Sederhana, absurd, dan sangat kami.

“Nama boleh sederhana, yang penting kebersamaannya tidak sederhana-sederhana amat.”

Kalau dipikir-pikir, nama KEBON ini memang tidak punya wibawa sama sekali. Tapi justru karena itulah lucunya. Nama ini terdengar seperti tempat yang harusnya ditanami, bukan tempat kumpul anak kos yang hidupnya kadang lebih banyak rebahan daripada produktif.

Awal mula cerita ini juga sangat tidak formal. Kami sering ngumpul habis dari kelas, atau pas lagi nunggu kelas berikutnya, di kosan teman saya yang bernama Bagas. Bagas ini orang Indramayu, dan beliau termasuk CAGUR.

Bukan grup lawak televisi.

Tapi Casisi Gugur.

Saya juga sempat mikir, ini singkatan siapa yang bikin? Kenapa terdengar seperti istilah yang kalau dijelaskan malah tambah tidak jelas? Tapi ya begitulah dunia pertemanan, kadang ada kosakata yang lahir tanpa izin, lalu dipakai terus sampai semua orang pura-pura paham.

Kosan Bagas kalau dilihat secara objektif memang agak berantakan. Tapi berantakan yang masih terasa akrab. Berantakan yang tidak menyakiti mata terlalu dalam. Berantakan yang kalau masuk masih bisa bilang, “Masih aman lah.”

Walaupun ya, kalau jujur, itu lebih tepat disebut berantakan karena memang penghuninya males beberes.

Jadi jangan langsung menggeneralisasi bahwa anak laki-laki kalau kumpul pasti berantakan.

Itu bukan teori sosial.

Itu cuma kebiasaan kami yang kebetulan didokumentasikan oleh semesta.

“Simplicity is the ultimate sophistication.” — Leonardo da Vinci

Nah, kalau diterjemahkan ke versi kami, mungkin artinya begini: tongkrongan yang paling sederhana justru sering paling ramai ceritanya. Bukan karena tempatnya mewah, tapi karena orang-orangnya cocok buat saling lempar candaan sampai lupa waktu.

Sampai pada suatu ketika, teman saya yang bernama Noval — anak Arjawinangun — mengirim voice note ke saya. Waktu itu saya lagi di rumah, di Kuningan. Saya ini memang PP, alias pulang-pergi, karena Kuningan dan Cirebon itu dekat. Dekat sekali. Saking dekatnya, kalau dipikir-pikir rasanya seperti jarak antara niat dan malas. Sama-sama ada, tapi sering tidak berjalan bersama.

Voice note dari Noval itu isinya cuma:

“Yuh Kebon.”

Saya langsung diam sebentar.

Bukan karena bijak.

Tapi karena bingung.

Di kepala saya langsung muncul pertanyaan:

“Ngapain ke kebon?”

Mau nanam jagung?

Mau cari singkong?

Atau mau sekadar duduk sambil menatap rumput dan merenungi hidup?

Ternyata maksudnya bukan kebon dalam arti literal. Yang dia maksud adalah kosan Bagas. Karena, menurut Noval, kosan Bagas itu memang sudah layak disebut kebon.

Dan saya pikir…

ya iya juga.

Karena memang dari luar sampai suasana, kosan itu sudah memiliki energi yang sangat kebon. Bukan kebon yang dirawat dengan pupuk dan penyiraman. Tapi kebon yang tumbuh dari kelelahan, tumpukan barang, dan semangat hidup yang setengah jalan.

“Kalau sebuah kosan sudah dipanggil kebon oleh temannya sendiri, berarti kekacauannya sudah di atas rata-rata.”

Saya langsung ketawa waktu dengar itu. Bukan ketawa sopan. Tapi ketawa yang muncul karena kalimatnya terlalu tepat untuk ditolak. Dan dari situlah nama KEBON akhirnya lahir.

Bukan dari rapat resmi.

Bukan dari musyawarah panjang.

Bukan dari proses branding yang matang.

Tapi dari satu voice note sederhana yang terlalu jujur untuk diabaikan.

Anehnya, justru nama itu sangat cocok.

Karena kami memang bukan perkumpulan yang hidup dari formalitas. Kami hidup dari obrolan receh, candaan random, dan kebiasaan nongkrong yang kadang tidak punya tujuan jelas, tapi tetap terasa penting.

Kalau orang lain punya komunitas yang isinya diskusi serius, kami punya komunitas yang kadang topiknya bisa lompat-lompat seperti bebek kaget.

Baru saja bahas tugas kuliah, tiba-tiba ngomongin kopi.

Baru ngomongin kopi, tiba-tiba bahas kipas angin kos.

Baru bahas kipas angin, tiba-tiba masuk ke teori hidup yang entah siapa yang mulai.

Dan anehnya, semua itu terasa normal.

“A room is not a room without natural light.” — Louis Kahn

Kalau versi kami, mungkin kalimat itu berubah jadi: tongkrongan bukan tongkrongan kalau belum ada Kecoa dibawah Dipan, Air Minum tumpah, dan satu orang yang tiba-tiba bilang, “Yuh!” Terus disahut “MENDEEEE?”.

“Life is really simple, but we insist on making it complicated.” — Confucius

Dan itu sangat cocok untuk menggambarkan hidup anak kampus. Sederhana saja sebenarnya. Kuliah, nongkrong, pulang, tidur. Tapi entah kenapa bisa terasa seperti serial panjang dengan banyak plot twist, apalagi kalau sudah masuk urusan teman, tugas, dan kosan yang dinamai kebon.

Jadi begitulah asal mula nama KEBON.

Nama yang absurd, lucu, dan sama sekali tidak terkesan mewah. Tapi justru karena itu saya suka. Karena kadang, yang paling berkesan memang bukan yang paling keren. Melainkan yang paling jujur sama keadaannya sendiri.

Dan kalau suatu saat kalian dengar orang bilang, “Yuh Kebon,” sekarang kalian sudah tahu:

itu bukan ajakan berkebun.

Itu tanda bahwa sebuah tongkrongan dengan nama paling tidak serius justru punya cerita yang paling serius untuk dikenang.