Seharusnya ini menjadi malam paling bahagia dalam sejarah sepak bola Kanada.
Bermain di Vancouver. Di depan puluhan ribu pendukung sendiri. Mencatat kemenangan pertama dalam sejarah mereka di Piala Dunia.
Dan bukan sekadar menang.
Mereka menghancurkan Qatar.
Enam gol tanpa balas.
Tapi ketika pertandingan berakhir, tidak ada yang benar-benar membicarakan skor.
Karena ada satu momen yang mengubah suasana stadion sepenuhnya.
Satu tekel.
Satu cedera.
Dan satu pemain yang harus meninggalkan lapangan dengan tandu.
Sebelum semua drama itu terjadi, Kanada tampil luar biasa sejak menit pertama.
Tim asuhan Jesse Marsch langsung menekan tinggi dan memaksa Qatar bertahan sangat dalam. Tekanan itu akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-16 ketika Cyle Larin membuka keunggulan.
1-0.
Gol yang membuat BC Place langsung meledak.
Kalau Qatar berharap bisa bangkit setelah kebobolan, harapan itu tidak bertahan lama.
Jonathan David mulai menunjukkan kenapa ia menjadi salah satu striker paling berbahaya yang dimiliki Kanada.
Menit ke-29.
Gol.
2-0.
Kemudian menjelang turun minum, David kembali mencetak gol.
3-0.
Babak pertama selesai dan pertandingan praktis sudah berakhir sebelum benar-benar memasuki babak kedua.
Lebih buruk lagi bagi Qatar, mereka kehilangan satu pemain setelah kartu merah yang membuat tugas mereka menjadi hampir mustahil.
“Ada malam ketika semua berjalan sesuai rencana. Lalu ada malam ketika semuanya berjalan terlalu baik untuk menjadi kenyataan.”
Babak kedua awalnya terlihat seperti kelanjutan pesta Kanada.
Nathan Saliba yang masuk sebagai pemain pengganti mencetak gol keempat pada menit ke-64.
4-0.
Lalu gol bunuh diri Mohammed Manai membuat skor menjadi 5-0.
Stadion semakin bergemuruh.
Qatar semakin tenggelam.
Namun di antara dua gol itu, datang momen yang mengubah segalanya.
Menit ke-57.
Ismaël Koné menerima tekel keras dari Assim Madibo.
Para pemain langsung memanggil tim medis.
Tidak ada yang merayakan.
Tidak ada yang protes.
Semua orang tahu sesuatu yang buruk baru saja terjadi.
VAR kemudian meninjau insiden tersebut.
Kartu merah langsung diberikan kepada Madibo.
Sementara Koné harus meninggalkan lapangan menggunakan tandu. Belakangan diketahui gelandang Kanada itu mengalami patah tulang kaki dan harus menjalani operasi.
Momen itu mengubah suasana pertandingan sepenuhnya.
Yang tadinya pesta berubah menjadi kekhawatiran.
Yang tadinya sorak-sorai berubah menjadi tepuk tangan dukungan.
Dan yang tadinya terasa seperti malam sempurna berubah menjadi malam yang pahit-manis.
Qatar kemudian kehilangan pemain kedua setelah kartu merah lain membuat mereka harus bermain dengan sembilan orang.
Situasi yang sudah buruk berubah menjadi bencana total.
Kanada akhirnya menutup pertandingan melalui gol ketiga Jonathan David pada masa injury time.
Hat-trick.
6-0.
Peluit panjang berbunyi.
Skor terbesar sejauh ini di Piala Dunia 2026.
Kemenangan pertama Kanada dalam sejarah Piala Dunia.
Dan salah satu kemenangan terbesar yang pernah diraih negara CONCACAF di turnamen ini.
Tetapi setelah pertandingan, para pemain Kanada tidak berbicara tentang enam gol.
Mereka berbicara tentang Koné.
Mereka berbicara tentang rekan setim yang harus meninggalkan turnamen dalam kondisi yang menyakitkan.
Nathan Saliba bahkan mendedikasikan golnya untuk Koné. Jesse Marsch mengakui bahwa kemenangan bersejarah itu terasa emosional karena cedera pemain yang sangat penting bagi tim.
Jadi ya.
Kanada mendapatkan kemenangan yang sudah mereka tunggu selama puluhan tahun.
Tapi sepak bola punya cara aneh untuk mengingatkan bahwa tidak semua kemenangan terasa sepenuhnya bahagia.
Kadang enam gol tidak cukup untuk menghapus satu momen yang membuat seluruh stadion terdiam.
Rangkaian Gol
⚽ 16’ — Cyle Larin (Kanada) 1-0
⚽ 29’ — Jonathan David (Kanada) 2-0
⚽ 45+3’ — Jonathan David (Kanada) 3-0
⚽ 64’ — Nathan Saliba (Kanada) 4-0
⚽ 75’ — Mohammed Manai (OG) 5-0
⚽ 90+2’ — Jonathan David (Kanada) 6-0
Hasil Akhir
Kanada 6-0 Qatar
Man of the Match: Jonathan David
(Hat-trick dan menjadi pusat pesta gol Kanada)

“Kanada mencetak enam gol. Tapi malam itu akan selalu dikenang karena satu pemain yang tidak bisa merayakan bersama mereka.”