Jujur ya…

Melihat McLaren di Canadian GP kemarin tuh rasanya antiklimaks banget.

Biasanya kalau tim sekelas McLaren sudah mengunci baris kedua saat kualifikasi, kita pasti berekspektasi mereka bakal ngacak-ngacak barisan depan. Lando Norris start dari P3 dan Oscar Piastri persis di belakangnya di P4. Secara teori, posisi ini harusnya jadi modal kuat buat ngamanin double podium atau minimal kasih tekanan ke Mercedes dan Red Bull.

Tapi kenyataannya di hari Minggu? Eksekusi mereka benar-benar hancur lebur.

Buat kalian yang kebetulan tidak nonton race-nya, garasi "Papaya" ini sebenarnya kena bencana berlapis sejak awal balapan yang bikin mereka kelihatan bapuk total.

Pertama, nasib apes menimpa Lando Norris. Di saat balapan baru berjalan setengahnya dan dia sedang berusaha menjaga pace di rombongan depan, tiba-tiba mobilnya kehilangan tenaga. Isu reliabilitas pada power unit memaksa Norris harus memarkir mobilnya lebih awal dan dinyatakan DNF saat balapan masih menyisakan 30 lap.

“Kehilangan satu mobil di awal balapan adalah pukulan mental, tapi kehilangan *pace* secara keseluruhan adalah bencana teknis.”

Dan sayangnya, bencana teknis itulah yang dialami oleh Oscar Piastri.

Tanpa Norris, harapan tim sejatinya pindah penuh ke pundak Piastri. Tapi anehnya, race pace mobil McLaren tiba-tiba menghilang. Piastri terlihat sangat kesulitan menjaga grip bannya. Mobilnya terlihat goyah dan sering oversteer setiap keluar dari tikungan lambat khas sirkuit Gilles Villeneuve.

Akibatnya, pertahanan Piastri pelan-pelan runtuh. Dia disalip satu per satu, terperosok ke papan tengah, terjebak dalam DRS train lawan, dan puncaknya: dia menyentuh garis finish di P11, tertinggal 2 lap dari Kimi Antonelli yang keluar sebagai juara.

Asli sih, melihat Piastri mati-matian bertahan dengan ban yang sudah habis grip-nya itu bikin gregetan.

Ini membuktikan kalau pace McLaren di simulasi kualifikasi hari Sabtu memang kencang, tapi saat harus membawa mobil bensin penuh untuk durasi balapan panjang, kelemahan manajemen ban mereka terekspos habis-habisan.

“Kadang kualifikasi yang bagus cuma jadi ilusi kalau mobilnya tidak bisa diajak bertahan di hari Minggu.”

Hasil nol poin dari Kanada ini jelas jadi wake-up call yang sangat keras buat seluruh kru McLaren. Mereka punya mobil cepat dalam satu lap, tapi balapan F1 dimenangkan di hari Minggu, bukan Sabtu.

Buat fans McLaren, ini jelas weekend yang rasanya ingin cepat-cepat dihapus dari ingatan. Tapi buat penonton netral, ini membuktikan betapa kejam dan tidak tertebaknya persaingan Formula 1 musim ini.