Kalau ada yang cuma menonton babak pertama Belanda vs Jepang, lalu memutuskan tidur lebih awal, saya punya kabar buruk.

Kalian melewatkan hampir seluruh keseruan pertandingan.

Selama 45 menit pertama, laga Grup F ini berjalan cukup datar. Belanda lebih banyak menguasai bola, Jepang menunggu kesempatan menyerang balik, dan kedua tim sama-sama kesulitan menciptakan peluang yang benar-benar berbahaya. Donyell Malen sempat mengancam gawang Jepang, sementara Keito Nakamura beberapa kali mencoba menusuk dari sisi kiri, tetapi skor tetap 0-0 hingga turun minum. 

Lalu entah apa yang terjadi di ruang ganti, karena pertandingan yang semula berjalan biasa-biasa saja mendadak berubah total.

Belanda membuka keunggulan pada menit ke-51. Berawal dari situasi bola mati, Ryan Gravenberch mengirim umpan silang yang disambut sundulan Virgil van Dijk. Kapten Oranje akhirnya memecah kebuntuan dan membuat ribuan pendukung Belanda di Dallas bersorak. 

Skor 1-0.

Momentum ada di tangan Belanda.

Tapi Jepang cuma butuh enam menit untuk menjawab.

Menit ke-57, Takefusa Kubo menemukan ruang dan mengalirkan bola kepada Keito Nakamura. Winger Jepang itu melepaskan tembakan rendah yang gagal dihentikan Bart Verbruggen. Skor berubah menjadi 1-1 dan pertandingan kembali terbuka. 

“Masalah terbesar saat melawan Jepang adalah mereka selalu punya cara untuk kembali.”

Belanda tidak tinggal diam.

Mereka kembali menekan dan akhirnya mendapatkan gol kedua pada menit ke-64. Kali ini giliran Crysencio Summerville yang menjadi pahlawan. Menerima bola di sisi kanan, ia menusuk ke dalam lalu melepaskan tembakan melengkung yang bersarang indah di sudut gawang Jepang. Salah satu gol terbaik sejauh turnamen ini berjalan. 

Skor menjadi 2-1.

Dan jujur saja, pada titik itu banyak orang mengira pertandingan sudah selesai.

Belanda unggul.

Jepang mulai kehabisan waktu.

Koeman bahkan mulai melakukan pergantian pemain untuk menjaga keunggulan. 

Ternyata itu kesalahan besar.

Semakin pertandingan mendekati akhir, Jepang justru semakin berani menyerang. Hajime Moriyasu memasukkan beberapa pemain segar dan terus mendorong timnya maju. Mereka tidak bermain seperti tim yang sedang tertinggal. Mereka bermain seperti tim yang yakin gol akan datang. 

Dan keyakinan itu akhirnya terbayar.

Menit ke-88.

Bola masuk ke kotak penalti Belanda.

Terjadi kemelut.

Daichi Kamada muncul di tempat yang tepat dan bola akhirnya masuk ke gawang.

2-2.

Dallas meledak.

Bangku cadangan Jepang meledak.

Dan Belanda kembali harus menerima kenyataan pahit setelah dua kali memimpin tetapi dua kali pula gagal mempertahankan keunggulan. 

“Belanda punya keunggulan. Jepang punya keteguhan. Pada akhirnya, keteguhan itu yang menyelamatkan mereka.”

Ketika peluit panjang dibunyikan, kedua tim harus puas berbagi satu poin. Bagi Belanda, hasil ini terasa seperti kehilangan dua poin. Bagi Jepang, hasil ini terasa seperti mendapatkan satu poin yang sangat berharga. 

Dan sekarang kita masuk ke bagian yang paling Indonesia.

Karena sejak sebelum pertandingan dimulai, media sosial Indonesia sudah lebih dulu menemukan hiburannya sendiri.

Ada meme yang memperlihatkan laga Belanda vs Jepang dengan dua versi berbeda. Versi pertama adalah apa yang dilihat orang normal: Belanda melawan Jepang. Versi kedua adalah apa yang dilihat orang Indonesia: bendera VOC melawan bendera Kekaisaran Jepang.

Tiba-tiba pertandingan Grup F berubah menjadi pertandingan yang sangat bersejarah bagi netizen Indonesia.

Yang lucunya, karena pertandingan berakhir 2-2, meme itu pun tidak punya pemenang.

Jadi kalau mengikuti logika netizen, hasil akhirnya sederhana:

Belanda tidak dapat Indonesia. Jepang juga tidak dapat Indonesia.

Untung memang ini pertandingan sepak bola.

Bukan sidang sejarah.

Hasil Akhir

Belanda 2-2 Jepang

⚽ Virgil van Dijk (51’)

⚽ Keito Nakamura (57’)

⚽ Crysencio Summerville (64’)

⚽ Daichi Kamada (88’)