Jujur ya, setelah PSG mengalahkan Arsenal di final Liga Champions 2025/2026, saya kira pencapaian terbesar mereka cuma mempertahankan trofi. Ternyata setelah melihat datanya, saya baru sadar kalau yang mereka lakukan jauh lebih gila dari itu.
Karena dalam sejarah kompetisi tertinggi antarklub Eropa, ternyata tidak banyak klub yang bisa juara dua musim beruntun.
Bahkan kalau kita bicara era modern Liga Champions yang sekarang kita tonton setiap tahun, daftarnya cuma berisi dua nama.
Real Madrid.
Dan sekarang…
Paris Saint-Germain.
Asli, cuma itu.
Padahal setiap musim Liga Champions selalu diisi klub-klub terbaik dunia. Ada Real Madrid, Bayern Munchen, Manchester City, Liverpool, Inter Milan, Barcelona, dan banyak raksasa lainnya. Tapi mempertahankan gelar ternyata sesulit itu.
“Menjadi juara itu sulit. Tetap menjadi juara jauh lebih sulit.”
PSG sekarang resmi masuk kelompok yang sebelumnya terasa eksklusif milik Real Madrid.
Kalau masih ingat, Madrid era Zinedine Zidane pernah membuat sesuatu yang terasa mustahil. Mereka bukan cuma back-to-back, tapi langsung three-peat pada 2016, 2017, dan 2018.
Sampai hari ini, banyak orang masih menganggap pencapaian itu sebagai salah satu era paling dominan dalam sejarah sepak bola modern.
Dan selama bertahun-tahun setelahnya, tidak ada yang mampu mengulanginya.
Manchester City gagal.
Liverpool gagal.
Bayern gagal.
Bahkan tim-tim yang terlihat superior selama semusim penuh tetap kesulitan mempertahankan gelarnya.
Lalu datang PSG.
Klub yang dulu sering dijadikan bahan bercandaan karena selalu gagal di Eropa kini justru berhasil melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukan banyak raksasa sepak bola lainnya.
Kalau ditarik lebih jauh ke masa lalu, daftar klub yang pernah mempertahankan gelar Eropa sebenarnya berisi nama-nama legendaris.
Real Madrid pernah juara lima kali beruntun saat kompetisi masih bernama European Cup. Benfica melakukannya di era Eusébio. Inter Milan pernah melakukannya. Ajax era Johan Cruyff juga pernah. Bayern Munchen bahkan juara tiga kali beruntun pada era 1970-an.
Lalu ada Liverpool, Nottingham Forest, sampai AC Milan yang menjadi tim terakhir yang melakukan back-to-back sebelum Liga Champions modern lahir pada tahun 1992.
Dan justru itu yang membuat pencapaian PSG terasa lebih spesial.
Karena sejak format Liga Champions modern dimulai lebih dari tiga dekade lalu, hanya ada dua klub yang berhasil mempertahankan trofi.
Real Madrid.
Dan PSG.
Tidak ada Barcelona.
Tidak ada Bayern.
Tidak ada Manchester United.
Tidak ada Manchester City.
Hanya dua nama itu.
“Sejarah tidak selalu diisi oleh tim yang paling disukai. Kadang diisi oleh tim yang berhasil melakukan hal yang tidak bisa dilakukan orang lain.”
Yang menarik, PSG melakukannya di era ketika persaingan jauh lebih brutal dibanding masa lalu. Jadwal lebih padat, lawan lebih kuat, tekanan media lebih besar, dan setiap tim punya akses teknologi serta analisis yang jauh lebih maju.
Makanya ketika sebuah tim bisa kembali mengangkat trofi di musim berikutnya, itu bukan cuma soal kualitas pemain.
Itu soal mental.
Soal konsistensi.
Dan soal kemampuan bertahan di puncak ketika semua orang sedang berusaha menjatuhkanmu.
Dulu orang mengenal PSG sebagai klub kaya yang selalu gagal di Eropa.
Sekarang?
Mereka sudah menjadi bagian dari sejarah Liga Champions.
Dan kalau ada yang masih menganggap pencapaian ini biasa saja, coba lihat lagi daftarnya.
Selama lebih dari 30 tahun era Liga Champions modern berjalan, hanya ada dua klub yang mampu melakukannya.
Real Madrid.
Dan Paris Saint-Germain.