Kalau ngomongin Persib sekarang, saya rasa ceritanya lagi enak banget buat ditulis. Tadi Persib menang 1-2 atas PSM Makassar lewat gol dramatis Julio Cesar di menit 90+7, sementara Borneo FC justru tertahan 0-0 di Jepara. Dari situ, kalau dihitung dari posisi sebelumnya yang sama-sama 75 poin, Persib sekarang unggul 2 poin dari Borneo. Itu yang bikin laga terakhir nanti jadi simpel tapi tegang: Persib minimal imbang, dan gelar bisa aman

  • Persib 78
  • Borneo 76

Dan jujur, ini tipe cerita yang paling saya suka. Bukan yang menangnya meyakinkan dari awal, tapi yang bikin orang terus ngitung sambil berharap tidak salah hitung. Karena sebelum laga ini, Persib dan Borneo memang masih saling tempel di puncak klasemen, sama-sama 75 poin, dengan Persib unggul head-to-head. Itu sebabnya skenario akhir musim jadi terasa lebih tenang di atas kertas, tapi tetap bikin deg-degan di kepala. 

“Kalau tim lain butuh keajaiban di pekan terakhir, Persib sekarang tinggal butuh ketenangan.”

Yang bikin Persib terasa kuat justru bukan cuma karena hasilnya, tapi karena cara mereka bertahan di momen yang paling rawan. Menang 1-2 di Parepare itu bukan kemenangan yang rapi-rapi amat; ada drama, ada tekanan, ada momen yang bikin fans sempat tarik napas panjang. Tapi akhirnya justru dari situ kelihatan bedanya tim yang cuma ikut bersaing dengan tim yang memang tahu cara bertahan di puncak. 

Kalau saya bikin versi blog pribadi, rasanya kalimat yang paling pas mungkin begini: Persib sekarang bukan lagi cuma mengejar gelar, tapi menunggu satu langkah terakhir untuk mengunci semuanya. Borneo masih hidup, masih nempel, masih bikin hitung-hitungan terasa tidak tenang. Tapi dengan keunggulan poin dan head-to-head yang sudah ada, Persib jelas berada di posisi yang lebih enak. Jadi laga terakhir nanti bukan lagi soal panik, melainkan soal tidak terpeleset di garis finis. 

“Di akhir musim, yang paling mahal bukan gol. Tapi ketenangan.”

Sumber