Kalau F1 musim ini mau diringkas dengan satu kalimat, saya rasa kalimat paling cocok adalah: yang muda lagi gas, yang senior masih nyangkut, dan Monaco siap jadi tempat ujian berikutnya. Kimi Antonelli baru saja mengunci kemenangan keempat beruntun di Canadian Grand Prix, dan itu bukan cuma angka keren buat dipajang di poster. Reuters mencatat dia jadi pembalap Italia pertama sejak Alberto Ascari yang menang empat kali berturut-turut, sekaligus pembalap pertama dalam sejarah F1 yang meraih empat kemenangan pertamanya secara beruntun.

Di umur 19 tahun, itu sudah bukan sekadar “rookie bagus”, itu sudah masuk kategori bikin paddock gelisah.
Yang bikin seru, Antonelli sekarang bukan cuma menang. Dia juga mulai terlihat seperti pusat gravitasi baru di grid. Di Kanada, George Russell sampai gagal finis karena masalah power unit, sementara Antonelli tetap berdiri di puncak dengan selisih 43 poin dari rekan setim sekaligus rivalnya itu. Mercedes juga sekarang memimpin klasemen konstruktor dengan jarak 72 poin dari Ferrari, jadi pergerakan Antonelli ini bukan cuma soal satu pembalap muda lagi hoki. Ini sudah mulai terasa seperti proyek besar yang benar-benar jalan.
Tapi justru di situlah menariknya. Setelah Kanada, Antonelli sendiri mengakui Ferrari adalah ancaman utama untuk menghentikan streak-nya di Monaco. Reuters menyebut Ferrari punya keunggulan yang bisa sangat berguna di sirkuit jalanan Monte Carlo: cornering yang lebih kuat, downforce rendah yang lebih cocok untuk tikungan lambat, dan performa yang lebih meyakinkan di area di mana top speed bukan faktor utama. Monaco memang tempat yang aneh. Sirkuitnya pendek, sempit, dan sering lebih ke soal kesabaran daripada keberanian. Di situ, mobil yang paling “rapi” sering lebih bahaya daripada mobil yang paling kencang.

Lewis Hamilton juga ikut bilang Monaco bisa jadi peluang penting buat Ferrari, karena karakter mobil mereka memang lebih enak saat tikungan rapat dan throttle response jadi lebih penting. Itu nyambung banget dengan konteks 2026, karena regulasi baru bikin mobil sedikit lebih kecil dan lebih lincah, dan Ferrari kelihatan dapat keuntungan dari arah itu. Jadi kalau Antonelli datang ke Monaco dengan status pembalap paling panas di grid, Ferrari datang sebagai tim yang paling mungkin bikin cerita itu berhenti.
“Kalau satu pembalap muda mulai terasa terlalu nyaman menang, biasanya Monaco datang untuk mengingatkan bahwa F1 belum selesai.”
Yang saya suka dari fase ini adalah F1 rasanya memang lagi masuk babak baru. Bukan karena semua tim sudah setara, karena jelas belum. Tapi karena ada tokoh muda yang mulai bikin narasi lama terasa agak capek. Antonelli sedang membangun identitasnya sendiri, Mercedes sedang kelihatan hidup, dan Ferrari diam-diam menunggu trek yang cocok buat menusuk. Monaco selalu punya cara bikin cerita besar jadi kecil lagi. Dan justru itu yang bikin balapan ini layak ditunggu.
“Di F1, streak itu menyenangkan. Sampai datang sirkuit yang tidak peduli siapa yang lagi panas.”
Kalau dilihat dari semua ini, Monaco bukan cuma balapan biasa buat Antonelli. Ini semacam ujian: apakah dia benar-benar sudah jadi wajah era baru, atau masih butuh satu teguran keras dari trek yang paling tidak ramah buat kesombongan. Dan Ferrari, dengan semua kekuatan tikungan lambatnya, kelihatan seperti pihak yang paling siap jadi pengganggu.