Korea Selatan datang ke pertandingan ini dengan posisi yang lebih nyaman.
Afrika Selatan datang dengan tekanan yang lebih besar.
Tapi setelah 90 menit berakhir di Monterrey, justru tim yang lebih tertekan yang bermain lebih berani.
Dan tim yang lebih nyaman malah terlihat seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
Sejak awal pertandingan, Korea Selatan sebenarnya tampil lebih dominan. Hwang In-beom mengatur tempo permainan, Lee Kang-in bergerak bebas di antara lini, sementara Kim Min-jae beberapa kali maju membantu serangan dari bola mati. Bahkan pada menit-menit awal, sundulan Kim Min-jae sempat harus disapu Aubrey Modiba tepat di garis gawang. Tidak lama kemudian, sepak pojok Korea Selatan menghasilkan peluang lain ketika Lee Kang-in melepaskan tembakan yang membentur tiang.
Saat itu rasanya hanya masalah waktu sebelum Korea Selatan mencetak gol.
Masalahnya, sepak bola tidak selalu berjalan sesuai logika.
Afrika Selatan perlahan mulai menemukan ritmenya.
Mereka tidak menguasai bola.
Mereka tidak mendominasi pertandingan.
Tetapi setiap kali menyerang, mereka terlihat jauh lebih berbahaya.
Thapelo Maseko menjadi ancaman utama. Ia beberapa kali lolos dari pengawalan bek Korea Selatan dan memaksa lini belakang Taegeuk Warriors bekerja keras. Satu peluang diblok di dalam kotak penalti, peluang lainnya melayang tipis di atas mistar.
Babak pertama berakhir tanpa gol.
Namun ada perasaan aneh.
Korea Selatan menguasai pertandingan.
Afrika Selatan menciptakan ancaman yang lebih nyata.
“Menguasai bola memang menyenangkan. Tapi yang dihitung tetap bola yang masuk gawang.”
Memasuki babak kedua, pola pertandingan tidak banyak berubah.
Korea Selatan terus menguasai bola.
Afrika Selatan terus menunggu momen.
Dan momen itu akhirnya datang pada menit ke-63.
Tshepang Moremi baru beberapa saat masuk dari bangku cadangan. Sentuhan pertamanya langsung mengubah pertandingan. Ia mengirim umpan akurat ke arah Thapelo Maseko di sisi kanan kotak penalti. Maseko mengontrol bola, melewati penjaganya, lalu melepaskan tembakan rendah ke sudut bawah gawang Kim Seung-gyu.
Gol.
1-0 Afrika Selatan.
Stadion meledak.
Bangku cadangan Afrika Selatan ikut berlari ke pinggir lapangan.
Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam, Korea Selatan terlihat benar-benar panik.
Tertinggal membuat pelatih Korea Selatan akhirnya memainkan Son Heung-min lebih lama dan meningkatkan intensitas serangan.
Masalahnya, semuanya terasa terlambat.
Umpan silang datang bertubi-tubi.
Bola terus masuk ke area penalti.
Tetapi peluang bersih hampir tidak pernah tercipta.
Ronwen Williams tampil tenang di bawah mistar, sementara duet bek tengah Afrika Selatan menyapu hampir semua bola yang masuk ke kotak penalti.
Yang justru hampir mencetak gol berikutnya adalah Afrika Selatan.
Menjelang akhir pertandingan, Evidence Makgopa nyaris menggandakan keunggulan setelah lolos dari pengawalan, namun Kim Seung-gyu melakukan penyelamatan penting yang menjaga Korea Selatan tetap hidup hingga menit-menit akhir.
Namun gol kedua tidak pernah diperlukan.
Karena satu gol saja sudah cukup.
Ketika wasit meniup peluit panjang, para pemain Afrika Selatan langsung berjatuhan ke rumput.
Bukan karena kelelahan.
Tapi karena mereka baru saja melakukan sesuatu yang belum pernah dicapai generasi-generasi sebelumnya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Bafana Bafana lolos ke fase gugur Piala Dunia.
Sementara itu Korea Selatan harus menunggu hasil grup lain untuk mengetahui apakah mereka masih bisa lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Yang membuat frustrasi para pendukung mereka adalah satu hal sederhana.
Mereka terlihat bermain seperti tim yang tidak sadar sedang berada di ambang eliminasi.
Pada malam yang menentukan segalanya, Afrika Selatan bermain untuk menang.
Korea Selatan bermain seolah hasil imbang akan datang dengan sendirinya.
Dan Piala Dunia hampir selalu menghukum tim yang berpikir seperti itu.
Rangkaian Gol
⚽ 63’ — Thapelo Maseko (Afrika Selatan) 1-0
Hasil Akhir
Afrika Selatan 1-0 Korea Selatan 🇿🇦🇰🇷
Man of the Match: Thapelo Maseko 🏆
Gol penentu kemenangan, ancaman terbesar sepanjang pertandingan, dan pemain yang mengantar Afrika Selatan menulis sejarah terbesar mereka di Piala Dunia.
“Afrika Selatan tidak memainkan sepak bola yang paling indah malam ini. Mereka hanya memainkan sepak bola yang paling penting.”